Pascasarjana Untirta Gelar Kuliah Pakar

Serang | Independensia  Pascasarjana program studi megister ilmu hukum Universitas sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) menggelar kuliah pakar dengan tema pandangan dan kebutuhan masyarakat dunia tentang hukum, di Auditorium Gedung B Untirta, Jum’at (26/10/2018).

Ketua program studi magister ilmu hukum pascasarjana untirta Azmi Polem mengatakan Berkaitan dengan tema kuliah pakar ini,  bahwa hukum berfungsi mengatur cara-cara mencapai kebutuhan hidup masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengumpulkan komoditas kebutuhan-kebutuhan hidupnya secara materiil dan spiritual.
“Hukum tidak saja mengatur individu masyarakat lokal, melainkan juga masyarakat nasional, dunia, dan bangsa-bangsa, dengan ketertiban hukum memberi kepastian, adanya kepastian mewujudkan keadilan yang berbeda-beda isinya”, Ujarnya.

“Karena itu, hukum berfungsi direktif (pengarah bagi pembangunan kemanusiaan), stabilitatif (penyelaras, penyeimbang, dan penyerasian seluruh elemen subjek dan objek hukum), perspektif (penyempurna terhadap tindak-tindak administrasi negara dan tindakan warga negara dalam kehidupan masyarakat) dan hukum berfungsi korektif (medium tempat pencari keadilan untuk menyelesaikan seluruh perselisihan sengketa permasalahan hukum)”, Tambahnya.

Dalam penyampaian materi acara kuliah pakar oleh pembicara pertama Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry/Asian Muslim Action Network, Bangkok) menyampaikan, bahwa yang harus dipahami di era sekarang ini adalah adanya perubahan dalam masyrakat dunia yang memerlukan suatu tatanan untuk kemudian diperlukan oleh manusia modern hari ini.
“Kehidupan manusia tidak lagi seperti landscape normal pada era sebelumnya, akan tetapi sudah berubah menjadi virtual (kedaulatan virtual-red), dan untuk itulah diperlukan aturan, Maka sekarang tidak heran jika banyak reproduksi hukum di beberapa negara dengan memikirkan sebuah aturan dalam tatanan baru”,Katanya.

“Disamping itu, hubungan manusia yang semakin lintas batas semakin memperkuat alasan untuk diperlukannya sebuah aturan baru yang disebut dengan borderless, akan tetapi dengan tetap memegang teguh hukum asal, hukum lokal, atau biasa disebut dengan hukum adat”, Tambahnya.

Dalam acara kuliah pakar ini juga di hadiri oleh wakil rektor 3  Suherna, Dosen fakultas hukum  Muhyi Mohas dan mahasisiwa/i pascasarjana megister ilmu hukum dan mahasisiwa/i fakultas hukum universitas sultan ageng Tirtayasa.

(Ctr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *