Jakarta– Tepat hari ini, 28 Oktober 2018, 90 tahun lampau sumpah pemuda di ikrarkan di Jakarta. Peserta Kongres Pemuda II adalah para organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, dan lainnya. Kongres tersebut dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito yang berasal dari PPPI.

Salah satu anggota Jong Sumatranen Bond adalah orang peranakan Tionghoa bernama Kwee Thiam Hong. Saat itu usianya baru sekitar 18 tahun. Kwee bergabung dengan Jong Sumatranen Bond karena lahir di Palembang. Dalam buku ‘Peranakan idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya’ yang ditulis oleh Yunus Yahya, ada cerita di mana Kwee tak merasa asing dari rekan-rekannya sesama pemuda lain sekalipun dirinya keturunan China.

“Tapi tidak ada masalah. Tidak ada yang mempersoalkan. Saya merasa salah seorang dari mereka dan mereka menganggap saya demikian pula,” ungkap Kwee seperti dikutip dalam buku tersebut. Masa remaja Kwee banyak terpengaruh pidato-pidato pemimpin Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto dan muridnya, Sukarno yang di kemudian hari menjadi Presiden pertama RI.

Akhirnya dia terdorong mengikuti rapat-rapat pemuda. Pada saat Kongres Pemuda II berlangsung, Kwee juga mengajak teman-temannya yang juga peranakan Tionghoa. Mereka adalah Ong Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Jin Kwie. Setelah masa kemerdekaan, Kwee mengganti namanya menjadi Daud Budiman. Dia meninggal dunia pada tahun 1997.

Ada lagi peranakan Tionghoa yang berperan saat Sumpah Pemuda. Dia tergabung dalam Jong Islamieten Bond. “Iya, namanya Mohammad Tjai,” kata sejarawan UI Rushdy Hoesein saat diwawancari team detik, Minggu (28/10/2018). Menurut Rushdy, Djohan Mohammad Tjai ikut meneken rumusan Kongres Pemuda II kala itu. Namun memang namanya seakan tak terdengar lagi, setidaknya tidak seperti Mohammad Yamin sang Sekretaris Kongres Pemuda II.

Selain peranakan Tionghoa, ada pula keturunan Arab yang turut menyalakan semangat persatuan untuk merdeka. Tokoh pemuda keturunan Arab saat itu adalah Abdurrahman Baswedan yang merupakan kakek dari Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies Rasyid Baswedan.
Setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan berupa Sumpah Pemuda yang kita kenal saat ini, ada pula kongres yang digagas pemuda-pemuda keturunan Arab. Mereka berkongres di Semarang atas gagasan AR Baswedan.

“Komposisinya sudah beragam, clue-nya adalah mereka mesti bersatu, karenanya mereka mesti bersatu, ada Tionghoa ada Arab, ada pribumi,” ujar sejarawan yang juga Ketua Komunitas Historia Asep Kambali. Pada kongres tersebut, mereka juga menghasilkan sebuah Sumpah Pemuda keturunan Arab. Kongres itu dihelat pada 4 Oktober 1934. Inisiasi kongres ini bermula pada saat 5 tahun setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sejumlah warga Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda mencapai satu titik pencarian identitas mereka. Para keturunan Arab berniat untuk melebur dan menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka. Sehingga mereka tak lagi ingin mengait-ngaitkan Yaman sebagai negeri asal-usul mereka.

AR Baswedan, yang saat itu berusia 27 tahun, mengumpulkan warga keturunan Arab. Dia lalu mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI). PAI ini mendukung perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Menurut pengamat masalah keturunan Arab di Indonesia, Hasan Bahanan, AR Baswedan terinspirasi oleh Sumpah Pemuda 1928. Dia juga memiliki semangat persatuan.

“Sumpah Pemuda 1928 yang melintasi batas-batas etnik dan agama berpengaruh pada orientasi kebernegaraan komunitas Arab Hadrami di Hindia Belanda,” kata Hasan kepada BBC Indonesia 28 Oktober 2015. Ada tiga butir ‘Sumpah Pemuda keturunan Arab’ tersebut seperti yang dimuat dalam buku ‘AR Baswedan: Membangun Bangsa, merajut Keindonesiaan’ tahun 2014.

Berikut ketiga butir ‘Sumpah Pemuda keturunan Arab’ tersebut: Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

 

Sumber: detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *