Zulfatta, “72 Tahun Usia Himpunan, Dinamika Harus Mencerdaskan”.

independensia|Banda Aceh- Terlahir di Keudai Kendang Kluet Selatan-Aceh Selatan pada (01/06/93), Zulfatta kini menginjak usia 26 Tahun dan telah menghasilkan banyak karya. Beliau merupakan kader HMI Cabang Banda Aceh sejak tahun 2011 yang juga tuntas menyelesaikan jenjang perkaderan hingga LK III (Advance Training) serta Senior Course. Beliau sebagai sosok Anak Muda Berprestasi yang Kreatif dalam berkarya telah menghasilkan 9 Buku yang diterbitkan dan menjadi editor untuk 2 buku yang ditulis oleh orang lain.

Sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ia mengungkapkan bahwa generasi milenial yang bijak adalah generasi yang mampu menjaga akal sehatnya ketika menghadapi hegemoni laten dalam pasar global 4.0. Ia pun berpesan di usia himpunan yang kini 72 Tahun kita harus menikmati dinamika yang ada untuk bisa terus berproses di dalamnya. “Selamat Ulangtahun Himpunanku, semoga segala dinamika yang terjadi mampu setidaknya mencerdaskan kader HMI dan turut meningkatkan kecerdasan umat dan bangsa kelak”, Harapnya

Lulus pada tahun 2017 dari pendidikan pascasarjana UIN Ar-Raniry, masa anggota Fatta di HMI tinggal menghitung waktu untuk disebut sebagai Alumni. Selama berproses di HMI tentu tidak kemudian meninggalkan perkuliahan dan berfokus hanya pada himpunan, Ia juga berprestasi di Kampus dan pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan turut memperoleh beberapa piagam penghargaan sebagai penulis buku terbaik dengan terbitan skala nasional pada acara Milad UIN ke 52 juga sebagai penulis tunggal di percetakan FAM Publishing.

Buku-buku yang ia terbitkan ialah; “Aceh dalam Sejarah”, “Formasi Nalar Aceh”, “Jejak Sultanah Safiatuddin”, Agama dan Politik Jilid 1″, “Pemikiran Politik Ali Hasjmy”, “Agama dan Politik Jilid 2”, “Agapol dalam Fenomena 2018”, “Agapolisme Menata Demokrasi” dan “Melankolis Cinta”. Terbitan terakhir dari hasil tulisan tangan beliau adalah puisi-puisi yang ia sampaikan untuk para penikmat syair tentang cinta. Tak hanya berbentuk buku, Fatta juga menerbitkan tulisannya dalam bentuk jurnal dan opini di Koran Serambi Indonesia.

Dalam salah satu karyanya ia menuturkan bahwa, “Hamparan laut terus bersuara, tak peduli dengan seberapa angin mendera. Pantai luluh, hantaman gemuruh dan buih terus merintih untuk meraih. Asa. Kedalamanmu tak putuskan nafasku, terjang gelombangmu adalah nyaliku, keindahanmu adalah tatapanku. Asa. Tebing kerasmu picu tekatku, lantunan buihmu adalah semangatku, dan sedihku luluh di pantaimu. Asa. Dalam rintangan ku menunggu.” Maka, beranjak dari penuturan syair tersebut dalam merangkai 72 Tahun usia bagi himpunan tercinta, Fatta mengajak seluruh kader himpunan untuk tetap pada poros berdinamika dengan semangat meraih tujuan, masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah SWT dengan melengkapi diri dalam proses mencapai lima kualitas insan cita HMI.

 

Editor : Winda Septiana

Hits: 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *