Lagi dan lagi ! Persekusi Murid Terhadap Guru Terjadi

Independensia.id | Gresik – Siang hari kemarin, penulis mendapatkan kiriman sebuah video dari seorang sahabat mengenai persekusi murid setingkat SMP terhadap seorang guru. Video tersebut diteruskan dari akun @krishnamurti_bd91.

Video berdurasi 55 detik tersebut menampilkan seorang murid mempersekusi guru honorer bernama Kalim pada Sabtu (2/2/2019) di SMP PGRI Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Nama dan kelas asal murid tersebut belum diketahui secara pasti. Selain itu, latarbelakang masalah murid melakukan tindakan tersebut belum ada penjelasan resmi dari pihak sekolah yang bersangkutan hingga video tersebut viral di laman media sosial Facebook dan Instagram.

Dilansir dari inews.id pada Minggu (10/2/2019), Kapolres Gresik AKBP Wahyu Sri Bintoro mengungkapkan bahwa Polsek Wringinanom telah memanggil guru honorer selaku korban untuk memberikan keterangan terkait peristiwa itu.

Dalam video terlihat seorang siswa yang tidak ada rasa hormat sama sekali terhadap guru, dengan berani memegang kepala sang guru Kalim. Terlihat pula, si murid dengan gayanya seperti jagoan memegang kerah sang guru kemudian mengajukan kepalan tangan ke arah muka guru. Guru pun merasa tak berdaya melihat kelakuan si murid yang sudah keterlaluan itu. Parahnya lagi, teman-teman si murid yang berada di lokasi kejadian seakan abai terhadap kelakuan tidak terpuji temannya. Bahkan beberapa siswa tertawa terbahak-bahak melihat aksi ‘sok jagoan’ tersebut.

“Beginilah nasib guru jaman sekarang. Keras dikit dilaporin ke Polisi. TKP SMP PGRI Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Dikeluarkan dari sekolah adalah solusi. Biar dia cari sekolahan baru. Yang sabar ya para guru-guru. We love you. We always support you”, tulis Krishna Murti di akun instagramnya.

November tahun lalu masyarakat dihebohkan oleh aksi candaan berlebihan murid terhadap guru di Kendal. Belum lama, berselang 3 bulan, kejadian serupa kembali terulang di Gresik. Berkali-kali kasus persekusi murid terhadap guru banyak beredar media sosial. Namun, berujung pada ketidaktegasan pihak kepolisian hingga pemerintah dalam menindak oknum murid yang berbuat lancang terhadap guru. Banyak warganet mendesak pihak kepolisian, sekolah hingga dinas pendidikan terkait untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 39 ayat (1) dan (2) tentang Perlindungan, bahwa Pemerintah, masyarakat, organisasi
profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan hukum, profesi, keselamatan dan kesehatan kerja terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Ditegaskan kembali dalam pasal (3) yang berbunyi :

Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.

UU telah menuliskan dengan jelas dan tegas tentang Perlindungan Guru. Harus ada keberanian dan kemauan dari pihak sekolah, kepolisian dan pemerintah untuk menindak tegas murid tersebut. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera bagi si murid itu sendiri pada khususnya, maupun murid lain di Indonesia pada umumnya.

Ironisnya, niatan penindakan terhadap murid yang masuk dalam kategori anak, harus terbentur bahkan terhenti oleh klausul-klausul dalam UU Perlindungan Anak. Jika tidak ada sinkronisasi antara UU Guru dan Dosen & UU Perlindungan Anak, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan lagi dan lagi terjadi. Pemangku kebijakan pendidikan harus jeli dalam melihat kasus di dunia pendidikan belakangan ini yang sudah banyak meresahkan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *