Pelaku Persekusi Guru SMP PGRI Wringinanom Menyesali Perbuatannya

Independensia.id | Gresik – Terungkap sudah identitas murid yang mempersekusi guru di SMP PGRI Wringinanom pada Sabtu (2/2/2019) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Arigo Aris (15) siswa aktif kelas IX SMP PGRI Wringinanom menyesali perbuatannya yang telah melakukan tindakan tidak terpuji kepada Nur Kalim (30), guru honorer mata pelajaran IPS. Permintaan maaf pun disampaikan AA di Mapolsek Wringinanom yang disaksikan oleh kedua orang tua, Bapak Nur Kalim selaku korban persekusi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Mahin dan jajaran Polsek Wringinanom. Dari akun instagram @krishnamurti_bd91, video permintaan maaf AA beredar.

“Saya Arigo Aris siswa sekolah di SMP PGRI Wringinanom kelas IX-A, dengan ini saya minta maaf, sekali lagi minta maaf atas perbuatan yang saya lakukan terhadap guru saya, Bapak Nur Kalim yang terjadi pada hari Sabtu, tanggal 2 Februari 2019 pukul 08.00 WIB di dalam kelas sewaktu jam pelajaran”, kata AA saat membacakan surat pernyataan dihadapan orang tua, pihak sekolah dan Disdik Gresik di Mapolsek Wringinanom.

Dengan besar hati Nur Kalim telah memaafkan perbuatan AA ketika dimintai keterangan pada Minggu (10/02/2019) oleh pihak kepolisian di Mapolres Wringinanom, Gresik, Jawa Timur.

“Saya sudah memaafkan”, katanya.

AA melakukan persekusi terhadap Nur Kalim lantaran tidak terima ketika ditegur untuk mematikan rokok di dalam kelas. Teguran baik-baik sang guru mendapatkan respon tidak menyenangkan dari muridnya tersebut. Nur Kalim sengaja tidak merespon tingkah laku anak didiknya tersebut karena takut timbul masalah baru nantinya.

“Saya sengaja diam dan tidak bereaksi karena khawatir timbul persoalan baru”, jelas Nur Kalim.

Permohonan maaf bukanlah akhir dari segalanya. Penindakan tegas dari Dinas Pendidikan dan pihak kepolisian terhadap anak tersebut harus tetap dijalankan sesuai aturan hukum yang berlaku. Penindakan ini dimaksudkan untuk memutus reaksi berantai persekusi murid terhadap guru di masa yang akan datang.

Berdasarkan kejadian itu, sudah sepatutnya dan seharusnya orang tua ikut berperan serta aktif dalam memantau pergaulan anak. Anak dapat berlaku demikian terhadap guru karena faktor lingkungan yang bebas, pertemanan yang tidak terkontrol dan tontonan yang kurang mendidik. Orang tua tidak bisa serta merta menyerahkan anaknya untuk diajar dan dididik di sekolah oleh guru. Sehebat-hebatnya guru, tidak akan bisa berhasil mendidik anak untuk bertingkah laku baik, jika pendidikan di dalam keluarga pun tidak diperhatikan.

“Pesan saya ke seluruh netizen: didik anak kita untuk menghormati semua orang. Terutama hormati, orang tua, guru, ulama, pemimpin, siapapun. Budaya bully mem-bully di politik secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi perilaku anak-anak”, tulis Krishna Murti pada caption akun instagramnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *