Membaca Surakarta 2019; Elektabilitas Jokowi Tinggi di Jawa Tengah

Independensia | Surakarta – Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta gelar Diskusi dan Deklarasi dengan tema “Pendidikan Politik Generasi Milenial: Membaca Surakarta 2019” pada Rabu (13/02) di Aula Pertemuan Rumah Makan Mbok Yun, Surakarta.

Dalam sambutannya, Ketua Cabang HMI Surakarta, Brilian Kusuma Ardi, menyampaikan HMI Surakarta akan tetap konsisten mengawal isu-isu publik di tahun politik 2019. Serta akan berada di garda depan dalam menangkal politisasi agama, penyebaran hoax, dan mengajak kalangan muda untuk ikut berpartisasi aktif dalam kontestasi elektoral.

“Masih segar dalam ingatan kita bagaimana hoax, propaganda, dan politisasi agama pada Pilkada DKI Jakarta 2017 menguras energi bangsa ini. Atas dasar itu, sudah seharusnya generasi milenial mempunyai tanggungjawab moral untuk mengawal Pemilu 2019 supaya berjalan secara demokratis, tentram dan adil,” ucapnya.

Dalam pemaparananya, Lukman Hakim selaku Wakil Dekan FEB Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga menjadi narasumber diskusi tersebut, menyampaikan bahwa pembangunan infrasruktur yang dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo berdampak positif bagi masyarakat. Bahkan selama era reformasi hanya Presiden Joko Widodo yang betul-betul memperhatikan pembangunan infrastrukur. Sehingga, hal tersebut secara tidak langsung memberi efek positif pada elektabilitas Joko Widodo pada Pilpres 2019.

“Ini artinya elektbilitas Joko Widodo tidak akan mampu disaingi oleh rivalnya, terutama untuk wilayah Surakarta, ” ungkapnya.

Pembangunan infrastruktur yang akan menimbulkan problem di bidang agraria ini tidak hanya terjadi di masa presiden Joko Widodo.

“Joko Widodo sebelumnya telah melakukan terobosan untuk mengatasi hal tersebut, demi menghindari konflik agraria Joko Widodo membagikan tanah yang dikuasi oleh negara kepada rakyat yang terdampak oleh pembangunan infrastruktur. Di samping itu, Joko Widodo juga getol melakukan pembagian sertifikat tanah pada rakyat untuk menghindari konflik agraria,” tambahnya.

Di samping paparannya soal pembangunan infrastruktur, Lukman juga menyampaikan soal politik. Menurutnya, “Membaca Surakarta 2019” adalah membaca peta elekoralnya untuk mengetahui arah dan dukungan masyarakat Surakarta perlu melacak latar belakang historisnya.

“Dalam konteks ini, kita dapat mengambil konsep tipologi masyarakat yang dikemukakan oleh seorang antropolog Clifford Geertz yang terdiri dari abangan, priyai, dan santri. Secacara antropologis, masyarakat Jawa Tengah pada umumnya, dan Surakara pada khusunya terdiri dari kalangan abangan. Sedangkan, abangan sendiri secara politis berafiliasi dengan PDI-P Dengan demikian, hasil suara Pilpres 2019, menurut Lukman tidak jauh berbeda dengan Pilpres 2014 di mana Jokowi menang telak atas Prabowo,” tambahnya.

Ditempat yang sama, narasumber kedua Okta Hadi Nurcahyo selaku dosen Fakultas Pendidikan Sosial, menyampaikan beberapa masalah politik di era post-truth. Baginya, di era disrupsi seperti ini hoax, fitnah, propaganda, dan agitasi banyak sekali bermunculan di media sosial. Bahkan, hal itu dijadikan sebagai senjata untuk menyerang lawan politik.

“Isu-isu PKI yang disematkan oleh pasangan tertentu adalah salah satu contohnya. Saya juga menghimbau agar generasi milenial mampu menggunakan nalar kritisnya untuk membaca informasi yang tersebar di media media sosial, ” tuturnya.

Tujuannya agar generasi Milenial dapat mendeteksi mana informasi yang valid dan mana yang tidak serta melacak dan mengetahui siapa penyebarnya.

Okta juga menambahkan,  bahwa arah dukungan dan peta politik elektoral di Surakarta ditentukan oleh sentimen kedaerahan. Menurutnya masyarakat Surakarta sebagian besar tetap akan memilih putra daerah, yakni Joko Widodo. Alasannya karena ia merepresentasikan masyarakat Surakarta di pentas nasional.

Penandatanganan deklarasi

“Ada semacam kebanggaan bagi masyarakat Surakarta jika Joko Widodo kembali terpilih sebagai presiden Indonesia 2019-2024,” pungkasnya.

Acara diskusi yang ditutup dengan pembacaan deklarasi ini bertujuan untuk mengubah wajah perpolitikan bangsa ini menjadi kian bersih, demokratis, dan penuh optimisme. Adapun 5 point yang dibacakan dalam deklarsi tersebut di antaranya ialah:

1. HMI Cabang Surakarta menolak secara tegas kampanye SARA.
2. HMI Cabang Surakarta berkomitemen melawan hoax dan infromasi fitnah.
3. HMI Cabang Surakarta siap mengawal Pemilu damai.
3. HMI Cabang Surakarta akan terus mendukung dan mengawal pembangunan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah demi kemajuan bangsa dan negara.
4. HMI Cabang Surakarta menolak kekerasan dalam bentuk apapun atas nama SARA. (AP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *