Era Revolusi Industri 4.0 : Pembangunan Sumber Daya Manusia sebagai Tugas-tugas Pendidikan

Independensia | Surakarta – Bidang Pendidikan Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) mengadakan Simposium Pendidikan pada Sabtu (16/02/2019) di Universitas Sebelas Maret Surakarta yang bertajuk “Teknologi, Industri dan Pendidikan”. Acara diselenggarakan dalam rangka merayakan Milad HMI ke-72 dan merespon isu pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0.

Keynote Speaker Simposium Pendidikan disampaikan oleh perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc, Kepala Staf Pengembangan Inovasi dan Daya Saing Bangsa & Dr. Mohammad Dimyati, Ditjen Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Penyampaian pertama oleh Dr. Dimyati yang menyinggung masalah Pembangunan SDM dan Perbaikan Segala Bidang. Menurut beliau, pembangunan sumber daya manusia dari hari ke hari semakin ditingkatkan kualitasnya. Bonus demografi menjadi faktor utama kualitas daya saing di masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh pesatnya kecanggihan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 yang memberikan dampak di segala bidang kehidupan. Mahasiswa sebagai agent of change telah dibekali ilmu yang memadai di kampus sudah seharusnya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya melek teknologi digital dan juga segala dampak yang ditimbulkan. Edukasi ini penting dalam meningkatkan pengetahuan yang akan berdampak pada kualitas SDM di masyarakat.

“Kita tahu bahwa dunia dipenuhi dengan teknologi, warga Indonesia dihadapkan dengan hal itu sedangkan negara luar seperti Jepang sudah bisa menyeimbangkan penggunaan teknologi di berbagai sektor kehidupan dan mereka mampu menggunakannya. Seperti halnya penggunaan teknologi transportasi ojek online, bisa jadi 10 tahun ke depan akan menjadi drown online untuk bepergian, sehingga mengurangi kemacetan. Dalam mengantisipasi hal ini, maka kita mempunyai peluang yang luar biasa dalam menghadapi bonus demografi. Dengan ketersediaan waktu beberapa tahun ini, kita sebagai mahasiswa juga pendidik serta masyarakat harus bisa mengatur dan mengelola mengenai perekonomian juga teknologi yang ada. Karena dari situlah yang akan menentukan keberhasilan dalam menyikapi bonus demografi tersebut. Intinya bahwa perkembangan teknologi ini membuat manusia terlena, semua serba praktis untuk memulai usaha, bahkan tanpa memiliki modal sedikitpun. Itulah bagaimana kita harus bergegas mengikuti perkembangan teknologi agar tidak terlindas teknologi yang berkembang”, kata Dimyati saat memaparkan materi.

Kemudian, dilanjutkan pemaparan Dr. Ananto mengenai Tugas-tugas Pendidikan. Ada dua poin penting yang menjadi tugas pendidikan yakni memfasilitasi segala kebutuhan siswa atau mahasiswa dan menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan zamannya. Berkembangnya teknologi akan berpengaruh pula terhadap sistem pendidikan. Tantangan terberat pendidikan di masa depan adalah tugas guru digantikan oleh mesin robot.

“Dengan berkembangnya teknologi ini, maka jenis pekerjaan nantinya akan digantikan oleh mesin robot. Maka dari itu penggerak pendidikan harus bisa bagaimana cara mendidik anak, dan bagaimana menghasilkan lulusan yang justru untuk mencetak teknologi yang sekarang ini belum bisa dilakukan. Bukan lulusanlah yang dikuasai oleh teknologi, namun teknologilah yang dikuasai oleh lulusan”, ucap Ananto.

Ananto juga menyampaikan bahwa sebagai manusia yang ditakdirkan menjadi manusia berpendidikan, maka sebagai seorang pendidik mempunyai keharusan dalam melakukan sebuah perefleksian untuk terus berupaya:

  1. Pendidikan itu memanusiakan manusia. Meski dengan kemajuan teknologi, pendidikan itu tidak bisa diubah nilainya, janganlah merobotkan manusia.
  2. Mendefinisikan sosok lulusan, harus mengerti batasan lulusan dan sistem apa yang akan dibangun.
  3. Perbaikan kurikulum menjadi sangat penting bagi guru atau dosen. Tanpa kurikulum, pendidikan tidak akan tercapai dan sebisa mungkin kurikulum dibuat fleksibel.
  4. Mengintegrasikan karakter literasi dan kompetensi. Perlu pemahaman bahwa literasi itu bukan hanya membaca, tapi juga menulis karya dalam bentuk digital.

Menurutnya, inilah bentuk kolaborasi pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, bercirikan kolaborasi dan sinergi. Selain itu, penting juga membentuk entrepreuneur muda untuk mengembangkan ide-ide kreatifitas dalam berkarya. Jika berkarya dibidang pendidikan, maka harus kreatif menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran efektif, sebagai contoh Higher Order Thinking Skill (HOTS), Problem Based Learning (PBL) dan Inquiry.

“Tenaga kerja itu bukan dituntut berapa nilai ijazahnya, berapa IPK-nya, lulusan apa, namun lebih ditekankan pada aspek bagaimana kamu mampu melakukan pekerjaan itu atau tidak. Jadi, marilah kita mengubah pendidikan kita, gunakan otak kiri dan kanan secara seimbang. Kebanyakan kita menggunakan otak kiri kita sebagai arah ke-logic-an atau dunia teknologi 4.0 ini salah satunya. Sedangkan otak kanan adalah aspek emosional diri seperti simpati, empati, kolaborasi, critical thinking guna mengubah technological skill menjadi human skill”, tutup Ananto.

Kontributor : Fajar Nur Annisa

Editor : FH Nurcahyo

Hits: 13

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *