Aktivis Milenial Kenalkan Pentingnya Literasi Energi

Independensia | Yogyakarta – Pembahasan soal ketahanan energi terus menjadi isu seksi di Indonesia. Wacana kedaulatan energi digaungkan setiap waktu oleh pemerintah. Pasalnya, energi memang menjadi item utama untuk menunjang perkembangan dan kemajuan suatu negara.

Kenyataan bahwa cadangan energi di Indonesia terus menipis memang mengharuskan untuk ‘mendompleng’ energi alternatif. Karena itu, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada sumber energi konvensional yang diprediksi akan habis dalam waktu yang singkat.

Berkenaan dengan itu, Seminar Nasional yang digelar oleh Himpunan Aktivis Milenial (HAM) Indonesia di Gedung Teatrikal Library UIN Yogyakarta, Selasa (12/03/2019) bertajuk “Sinergi Mahasiswa dalam Mengawal Prospek Ketahanan Energi Nasiional” dihelat untuk mengajak mahasiswa menggali potensi energi demi kedaulatan Indonesia.

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan itu Bernando J. Sujibto, Pengamat Kepemudaan sekaligus Dosen Sosiologi UIN Yogyakarta, dan Ahmad Salehuddin, Akademisi sekaligus Pengamat Energi. Selain itu, hadir pula sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) lingkup Yogyakarta, komunitas milenial, dan mahasiswa dari sejumlah kampus di Jogja.

Dalam sambutannya, Ridwan, Korwil Himpunan Aktivis Milenial Indonesia Yogyakarta menjelaskan, mahasiswa dan civitas akademika memiliki peran yang sama dalam rangka mengembangkan pola pikir mahasiswa demi terciptanya kedaulatan energi nasional. Menurutnya, mahasiswa lintas jurusan mesti memiliki concern yang sama untuk menciptakan energi baru terbarukan melalui penggunaan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.

Ridwan berharap, mahasiswa terus menumbuhkan semangat untuk mengawal kedaulatan dan ketahanan energi di Indonesia.

“Dalam industri migas, misalnya, semua jurusan diperlukan di situ. Jadi, meski aktifitas akademik kita adalah soal agama, bukan teknologi dan sains, kita tetap punya tanggungjawab dan peran yang sama,” ucap Ridwan.

Bagi Ridwan, isu ketahanan dan kedaulatan energi mesti didukung untuk jadi kurikulum di setiap perguruan tinggi. Pasalnya, peradaban Indonesia ditentukan oleh perkembangan energinya.

“50 tahun lagi, cadangan batubara, minyak, dan gas kita mungkin sudah tergerus habis. Kita pikirkan alternatif dari hari ini,” terang dia.

Literasi Energi

Sedikitnya perhatian mahasiswa kepada kajian energi disebabkan karena jurusan akademik yang tidak mendukung. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, misalnya, tidak akan memiliki minat khusus terkait minyak dibanding dengan mahasiswa perminyakan dan teknologi. Meski begitu, menurut Bernando J. Sujibto, yang paling urgen adalah menghadirkan literasi energi.

“Literasi energi penting untuk mengenalkan dan mengakrabkan mahasiswa terhadap diskursus ketahanan dan kedaulatan energi. Literasi energi bisa memangkas disparitas jurusan akademik. Karena literasi energi akan mengunggulkan polemik diskusi yang setiap waktu akan memantik pikiran mahasiswa lintas jurusan,” terang Bernando.

Sementara itu, Ahmad Salehudin mengungkapkan, predikasi mahasiswa memang secara otomatis memiliki peran untuk menciptakan kedaulatan Indonesia, salah satunya di sektor energi. Bahkan, setiap aktifitas akademik di kampus memerlukan kontribusi energi, sekecil apapun.

“Bagaimana kita membayangkan aktifitas akademik di kampus dan sekolah tanpa listrik? Bagaimana mobilitas laju ekonomi kita tanpa BBM? Contoh kecil itu menunjukkan betapa negara akan lumpuh tanpa sokongan energi. Kedaulatan itu dimulai sejak dalam pikiran dan bangku sekolah,” ungkap Ahmad.

Di akhir acara, sejumlah penanya yang terdiri ratusan mahasiswa mengutarakan kegelisahannya kepada para narasumber di sesi tanya jawab. Kegiatan seminar ditutup sekitar pukul 11.54 WIB oleh protokoler panitia.

Kontributor : Muchlas Jaelani

Hits: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *