Karamah Auliya Oleh Said Muniruddin “ini Lanjutan Buku Bintang Arasyi”

Independensia| Banda Aceh- Bintang Arasyi merupakan karya yang ditulis oleh Said Muniruddin sebagai dasar awal memahami arti sebuah keseimbangan antara dunia dan ukhrawi. Dalam proses penulisannya, Said terinspirasi atas kondisi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang begitu menyukai bahasan-bahasan duniawi hingga hadirlah suatu karya yang menjadi pedoman guna memahami Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) lebih mudah. “ Tujuan HMI itu pada intinya adalah meraih ridha Allah SWT, dan itu membuat saya termasuk anggota biasa lainnya lebih mendekatkan diri.”

Sebagai orang yang pernah berproses di HMI, Ia membenarkan bahwa hadirnya NDP memudahkan langkah menuju Allah SWT tetapi tidak boleh terpaku hanya pada teksnya namun segera temui Sang Pencipta, yang memiliki Bumi serta segala isinya. “HMI sudah lama paradigmanya ke “kiri-kirian” dan itu cukup memeras otak. Sudah saatnya diseimbangkan dengan kembali ke “kanan” guna mencerdaskan kalbu. Bintang ‘Arasy yang saya tulis sebagai mukaddimah untuk tujuan itu.” Jelas Said

Said Muniruddin, Penulis Bintang Arasyi

Said Muniruddin lahir di Pidie, Aceh pada tahun 1979 sebagai anak ke-10 dari 11 bersaudara. Selama perjalanan hidupnya, ia telah menempuh banyak proses hingga menemukan jiwa seni dalam diri yang membawanya pada karya literasi yang begitu menakjubkan. Beberapa karya yang berhasil ditulis selalu dibagikan Said dalam website pribadinya, selain berupa tulisan ia juga berhasil menerbitkan bukunya di beberapa percetakan.

Buku bintang Arasyi yang ia terbitkan di Syiah Kuala University Press ditulis untuk menjadi referensi bagi mahasiswa yang tergabung di HMI khususnya. Buku ini sangat membantu pembentukan character building  melalui pendekatan filosofis-irfani yakni menyentuh otak sekaligus hati bagi para kader HMI. Bintang Arasyi hadir sebagai jawaban guna lebih memahami nilai-nilai yang dituangkan Nurcholis Madjid dalam buku NDP agar bisa mendalami Islam dan mendekat kepada Allah SWT.

Dalam menulis karya, beberapa ia peroleh dari pengalaman pribadi seperti karya yang berjudul Islam di Australia. Karya itu ia tulis atas penelitiannya di negeri seberang saat ia terpilih oleh Australia Indonesia Institute (AII) sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pemimpin muda muslim Indonesia-Australia (Australia-Indonesia Young Moslem Leader Exchange) pada Mei 2005Selama di Australia, Said mengunjungi kota Melbourne dan Sidney untuk berdiskusi juga berinteraksi dengan berbagai kelompok intelektual, komunitas sosial serta keagamaan.

Tidak hanya Australia, Said juga memiliki beberapa pengalaman di beberapa negara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, Inggris, Norwegia, Wales, Skotlandia, Belanda, Belgia, Perancis, Andora, Spanyol, German, Luxembourg, Swiss, Austria, Swedia, Italia, dan China dalam rangka pendidikan kepemimpinan, kegiatan bisnis hingga perjalanan spiritual.  Mengingat pengalaman hidupnya yang begitu luar biasa, Said ternyata masih memikirkan kegiatan literasinya untuk menerbitkan karya lain yang ia peroleh dari penelitian.

Kini, Said baru saja menyelesaikan buku berjudul Karamah Auliya, karya ini mengisahkan tentang 100 pengalaman spiritual murid-murid Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Buku ini berisi metodologi praktis  untuk berjumpa dengan Allah SWT yang merupakan lanjutan dari Bintang Arasyi yang cenderung tasawuf teoritis. “Itu pengalaman orang-orang yang menempuh jalan jiwa sehingga dapat berkomunikasi secara lebih interaktif dengan Allah SWT.” Ungkapnya. Buku yang baru saja diselesaikan bulan Maret 2019 ini belum diterbitkan namun sudah diberitakan dalam websitenya di alamat https://saidmuniruddin.com.

 

Hits: 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *