Pesan dari Madinah

Oleh: Sofyan Sjaf

Independensia | Opini – Puluhan abad yang lalu, seorang pemuda memulai perubahan dengan berhijrah. Madinah adalah kota yang dipilihkan. Kota dimana bukan tempat ia dilahirkan dan bukan pula kota asal-usul etnik/suku nenek moyangnya. Tetapi, kota inilah sebagai arena pembuktian beliau akan keyakinan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya. Pemuda itu bernama Muhammad.

Mendengar kedatangannya, warga Madinah bersuka cita. Walau sebagian besar warga Madinah belum pernah melihat sosoknya, tetapi ajaran monoteisme yang diserukannya membuat warga kota Madinah begitu menantikannya. Tidak sedikit warga menawarkan diri untuk menjamunya. Karena tidak ingin melukai hati warga Madinah yang ingin menjamunya tersebut, Muhammad akhirnya membiarkan ontanya untuk memilih tempat dia beristrahat. Jejak peristirahatan onta tersebutlah, kemudian dibangun masjid pertama dimana Muhammad ikut membangunnnya. Nama masjidnya adalah Masjid Kuba.

Demikianlah strategi yang dipilihkan dan dijalankan Muhammad pada awal kedatangannya di kota Madinah. Kota dimana menjadi rujukan peradaban ummat manusia hari ini.

Meleburnya Identitas

Etnik/suku Aws dan Hazraj adalah dua entitas di Madinah yang mayoritas mengakui ajaran Monoteisme Muhammad. Bukan kaum Qurais asal etnik/suku Muhammad sendiri. Saat itu, Muhammad berbeda keyakinan dan kepercayaan dengan mayoritas penduduk etnik/suku asalnya. Politeisme ditentangnya. Banyak tradisi Qurais didekonstruksi Muhammad. Terutama terkait dengan masalah keyakinan.

Dengan sikapnya tersebut, tidak sedikit cacian, makian, ancaman, pembunuhan, dan lain sebagainya ditujukan ke Muhammad di kota kelahirannya, yaitu Mekkah. Muhammad tidak surut memperjuangkan keyakinan yang dianutnya. Akibatnya, Muhammad dan pengikutnya didesak oleh mereka yang tidak menyukainya. Perintah berhijrah pun dilakukan dan Muhammad beserta pengikutnya pergi meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Kota yang dipilihkan untuknya membangun peradaban manusia.

Tekanan yang datang silih berganti tersebut, disikapi Muhammad atas perintahNya dengan berhijrah. Kekuasaan yang tamak, elit yang feodal, dan warga Mekkah yang Jahiliah menyadarkan Muhammad untuk membangun kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat yang beranjak bukan dari identitas atau komunitas asal Muhammad, yaitu kaum Qurais. Melainkan dari etnik/suku Aws dan Hazraj yang masuk dalam kaum Anshor. Pertanyaannya mengapa etnik/suku Aws dan Hazraj yang dipilihkan untuk Muhammad? Bukan etnik/suku lainnya? Jawabannya sederhana, hanya etnik/suku Aws dan Hazraj (kaum Anshor) yang menyakini dan membenarkan ajaran risalah yang dibawa Muhammad secara komunitas.

Mengkonstruksi tindakan Muhammad atas perintahNya di atas adalah motif peleburan identitas melalui keyakinan. Keyakinan adalah sesuatu yang tidak membedakan, melainkan menyatukan. Di bawah kendali ketokohan Muhammad, keyakinan dimaknai sebagai energi perubahan. Isme kesukuan dan sejenisnya, hanyalah tirani yang melanggengkan singgasana feodalisme dan jahiliasme. Bagi Muhammad, keyakinan (Islam) adalah satu-satunya yang mampu mempersatukan perbedaan segala Isme yang ada.

Keyakinan tersebutlah yang membuat Muhammad berhasil membangun suatu peradaban yang memanusiakan manusia dan mengganggap perbedaan suku serta ragam identitas lainnya sebagai kekuatan, bukan sebaliknya. Catatan perjanjian yang tertuang dalam piagam Madinah adalah torehan sejarah terbangunnya civil society yang menjadi rujukan ummat manusia.

Torehan itu sampai saat ini masih berjalan dan terlihat. Beragam etnis/suku dari seluruh penjuru dunia hadir di Madinah dalam rangka ritual Umroh maupun Haji. Mereka berdatangan dan mengucapkan salam dan shalawat kepada Muhammad. Tidak ada perbedaan diantara mereka. Diantara rumah dan mimbar Muhammad terdapat taman surga atau Raudah. Setiap manusia dari segala penjuru dunia (tidak mengenal etnik/suku darimanapun) yang berdoa dan bermunajat di tempat tersebut, memperoleh jaminan doa-doanya akan dikabulkan Allah SWT. Tentunya dengan syarat memiliki keyakinan yang sama! Identitas yang sama!

Indonesia dan Identitas

Saat ini, Indonesia memasuki fase kritis. Takdir sebagai negara yang beragam lagi di uji. Arena politik (pesta demokrasi) nampaknya membuka mata dan hati kita untuk memaknai keberagaman sebagai takdir yang harus dijalani.

Akhir-akhir ini, identitas menjadi “jualan”. Ada yang mempermasalahkan dan ada juga yang tidak mempermasalahkan. Bagi Saya ini hal yang wajar. Menafikkan identitas seperti halnya melawan takdir. Tiga abad yang lalu, Furnivall (2009) mengingatkan kita bahwa keberagaman dan kemajemukan negara-negara di Asia Tenggara adalah keniscayaan bagi tumbuhnya federalisme. Furnivall menegaskan bahwa anarkisme disetiap babak sejarah Asia-Tenggara adalah takdir yang tak terelakkan.

Menyanding ujian dan ungkapan Furnivall tersebut, serta posisi NKRI ke depan hanya bisa dijawab melalui kedewasaan dan etika para elit bangsa ini menyikapi keragaman identitas sebagai takdir Indonesia. Dalam buku Politik Etnik (Sjaf 2014) tegas dikatakan bahwa identitas dalam arena politik selalu direproduksi aktor. Aktor yang dimaksud adalah elit (mereka yang memiliki akses terhadap pengetahuan dan kekuasaan) dari ragam latarbelakang profesi. Eskalasi politik identitas akan terus meningkat, jika elit mereproduksi peran mengkontradiksikan identitas yang ada. Sebaliknya, eskalasi akan menurun, apabila elit bersikap arif terhadap keberagaman yang ada dan mereproduksi identitas sebagai kekuatan yang mempersatukan!

Jejak sejarah yang diperlihatkan Muhammad adalah bahan perenungan yang menarik, bagaimana memperlakukan keberagaman identitas sebagai kekuatan membangun peradaban. Dimana etnis/suku yang beragam diikat ke dalam satu keyakinan yang humanis. Keyakinan yang melarang melakukan dominasi dan subordinasi terhadap siapapun. Tidak ada etnik/suku yang dominan dan subordinat. Sebaliknya, ketakwaan dan kerja-kerja kemanusiaanlah yang membedakan derajat seseorang maupun kelompok tertentu!

Eksklusifisme atau inklusifisme tidak serta merta dilihat dari narasi “fisik panggung” yang artifisial semata. Sebaliknya eksklusifisme atau inklusifisme harus dilihat dari orientasi tindakan (motif) dan cara bertindak (modus). Bukan berarti, jika suatu kelompok bertindak dengan warna identitas tertentu (keyakinan), maka disebut eksklusif. Sebaliknya, jika mengumpulkan beragam identitas keyakinan dalam satu panggung, maka disebut inklusif.

Setidaknya Muhammad telah memberikan ketauladanan tindakan kenegarawanan yang terbaik sepanjang zaman, yakni memposisikan agama dalam konteks keberagaman dalam identitas keyakinan yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita menyaksikan, hampir setiap hari, ratusan ribu manusia dari ragam identitas etnis/suku dari berbagai negara dengan keyakinan yang sama menghampiri dan menyapa maqom baginda Muhammad di Masjid Nabawi, Madinah.

Puluhan abad yang lalu, pesan ini telah disampaikan oleh manusia penyatu keberagaman. Meski beliau Muhammad telah wafat dan jasadnya telah tiada, akan tetapi ajaran-ajarannya selalu hidup dan di reproduksi oleh mereka dari ragam identitas yang berbeda dalam satu identitas keyakinan, yaitu Islam.

Hits: 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *