Komitmen DMI Bangun Peradaban Islam dan Harapan untuk Kader HMI

Independensia | Jakarta – Pengurus Departemen Kaderisasi Pemuda dan Remaja Masjid, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI), memberikan kado terindah berupa sebuah buku karya Arief Rosyid, tepat pada perayaan ulang tahun DMI ke 47 tahun. Buku berjudul “Masjid Milenial” itu dilaunching pada hari Sabtu, (22/6/2019) di Isyef Point, Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat.

Buku Masjid Milenial ini dilatarbelakangi Arief Rosyi, ketika melihat generasi milenial yang terus bertumbuh. Bahkan, tidak hanya sekedar kuantitas, tetapi secara kualitas juga menunjukan, kaum milenial mampu memenangkan semangat zaman.

Doc. Saat sharing launching buku, /photo

“Jadi, masjid itu selama ini dianggap sebagai ruang untuk berinteraksi kepada Tuhan saja. Namun dengan anak-anak muda dan kemajuan zaman ini, mereka ternyata menangkap semangat itu bahwa, mereka harus melakukan banyak hal di masjid, mereka membuat tempat untuk dagang, ngopi dan seterusnya,” kata Arief Rosyid selaku pengurus PP DMI saat ditemui di lokasi launching buku tersebut.

Arief kemudian menjabarkan sekilas hasil diskusi buku tersebut, jika dulu kita memilih ke masjid atau nongkrong di warung kopi. Tapi saat ini justru harus didekatkan keduanya. Misalnya, memberikan ruang-ruang seperti suasana ngopi kepada anak muda yang berada di lingkungan masjid, agar aktivitas mereka pun tercover keduanya. Jadi, nongkrongnya dapat, ibadahnya juga dapat.

“Nah, selanjutnya itu yang sebenarnya kita pengen dorong agar kita memberi ruang di Dewan Masjid Indonesia untuk melakukan inovasi-inovasi itu, tentu dalam koridor-koridor yang semestinya. Tapi Saya kira, tanpa keberanian untuk melakukan inovasi, tanpa keberanian untuk memulai sesuatu yang baru, Saya kira itu kita tidak bakalan pernah dapat hal-hal yang signifikan,” jelas Arief

Olehnya itu, kata Arief, melalui Milad DMI ke 47 tersebut, DMI berharap selain semangat milenial secara kuantitas berbondong-bondong ke masjid, dan mendorong kemajuan Islam, juga secara kualitas membutuhkan kontribusi terhadap kemajuan umat dan bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

 

Harapan untuk Kader HMI

Nama Arief Rosyid tidak asing bagi kader HMI. Selain sebagai mantan Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015, Arief Rosyid saat ini juga sebagai tokoh muda nasional yang konsisten dalam dunia pergerakan. Lantas, apa harapan Arief Rosyid untuk kader HMI saat ini? Berikut hasil wawancara langsung tim independensia.id dengan Arief Rosyid.

Berdasarkan berbagai hasil survei terakhir yang dirilis, Arief menyebutkan bahwa pada tahun 2050, Islam sudah menjadi penduduk terbesar di dunia. Itulah semangat kemajuan Islam yang sangat luar biasa pesatnya. Dirinya berasumsi bahwa, terasa aneh jika kemajuan ini tidak diisi oleh anak-anak muda yang punya integritas, visi, dan semangat pembaharuan.

Terlebih lagi menyoal kontribusi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Arief berharap, HMI harus kembali membasis di masjid, serta mendorong peradaban yang dimulai dari masjid. Hal itu menurutnya relevan dengan tujuan HMI, yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (Pasal 4 Tujuan HMI).

“Jadi, dari tujuan ini sebenarnya cukup menggambarkan bahwa, HMI sebagai insan pengabdi harus jelas ranah pengabdiannya seperti apa, karena kita organisasi Islam dan masjid sebagai pusat peradaban Islam, apalagi organisasi HMI ini diisi oleh anak-anak muda yang punya semangat dan independensi. Harusnya, dua kekuatan besar ini kalau kita gabung, HMI berhasil menjadi katalisator dari kemajuan Islam,” imbuhnya

Dari dua katalisator yang dimaksud itu, Arief mengatakan, dirinya sangat bangga karena menjadi bagian dari kader HMI. karena selain memiliki independensi, kader HMI juga punya intelektualisme.

“Kader HMI adalah masyarakat Islam terdidik dan tercerahkan, sehingga kalau mereka masuk ke masjid maka masjid itu pasti akan terisi secara kualitas. Jadi, kita tidak hanya gembira bahwa secara kuantitas umat Islam bertambah, masjidnya rame dan seterusnya, tapi secara kualitas umat Islam terisi lah,”

Lanjut Arief, dirinya meyakini HMI mempunyai tanggungjawab terhadap hal tersebut. HMI harus kembali kepada tujuannya bahwa tugas pengabdiannya untuk membangun masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, bisa dimulai dengan memberdayakan masjid sebagai pusat-pusat peradaban Islam. (*)

Hits: 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *