Resensi Buku : Pergeseran Sosial Malapetaka bagi Umat Manusia

Judul Buku : Sapiens : Riwayat Singkat Umat Manusia
Pengarang : Yuval Noah Harari
Penerbit : Harper
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 443 Halaman
Resentor : Dede Ruslan, Kader HMI Komisariat Syariah UIN SMH Banten

Ribuan tahun silam, umat manusia mencari makan dengan cara mengumpulkan tumbuhan dan berburu hewan yang hidup dan berbiak tanpa campur tangan manusia. Hal itu terus bergerak kemana makanan itu ada. Untuk apa melakukan hal lain, apabila gaya itu menyediakan cukup makanan dan mendukung dunia struktur sosial, kepercayaan religius, dan dinamika politik yang kaya.

Era manusia modern. Manusia terus menerus berevolusi secara biologis dan sosial. Kesetaraan tidak akan pernah ada dalam konsepsi manusia di bidang biologis. Sehingga, bisa kita sebutkan bahwa manusia pemburu dan pengepul, manusia petani (Revolusi Pertanian), manusia modern adalah klasifikasi dari gaya bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan biologis. Secara taraf hidup, terlihat cukup jelas perubahan sosial yang terjadi.

Pada masa pemburu dan pengepul yang selalu mencari makan dan tidak pernah menetap, maka pada masa revolusi pertanian, semua itu mulai berubah 360 derajat kiranya pada 10.000 tahun silam. Ketika manusia mulai mencurahkan nyaris seluruh waktu dan upayanya untuk memanipulasi kehidupan segelinitir hewan dan tumbuhan. Sejak matahari terbit, manusia dalam masa pertanian mulai menanam biji-bijian atau benih tumbuhan hingga matahari terbenam, menyirami tanaman, mencabut rumput liar dari ladang, dan menggiring domba ke padang subur. Pekerjaan ini, mereka pikir akan menyediakan lebih banyak buah, padi-padian dan daging. Terjadilah suatu revolusi cara hidup manusia atau revolusi pertanian.

Para cendekiawan dahulu menyatakan bahwa revolusi pertanian adalah lompatan jauh ke depan bagi umat manusia, mereka menuturkan kisah kemajuan yang didorong kemampuan otak manusia. Evolusi secara bertahap menghasilkan manusia yang semakin cerdas. Pada akhirnya, orang-orang sedemikian cerdas sehingga mampu memecahkan rahasia alam, memungkinkan mereka menjinakkan domba dan membudidayakan gandum. Setelah itu terjadi, manusia dengan girang meninggalkan kehidupan menjadi pemburu dan pengumpul yang berat, berbahaya dan kerap kali keras, untuk menetap dan menikmati kehidupan petani yang menyenangkan dan mengenyangkan.

Sebenarnya kisah tadi hanya khayalan semata. Tidak ada bukti bahwa manusia menjadi semakin cerdas seiring waktu. Para pemburu dan pengumpul mengetahui rahasia-rahasia alam lama sebelum revolusi pertanian. Bukan mengantarkan era baru pada kehidupan yang nyaman, revolusi pertanian menjerumuskan petani ke dalam kehidupan yang secara umum lebih berat dan kalah memuaskan dibandingkan kehidupan pemburu-pengepul.

Pemburu dan pengepul menghabiskan waktu dalam beraneka ragam cara yang menggugah, serta menghadapi lebih sedikit bahaya kelaparan dan penyakit. Revolusi pertanian jelas memperbesar jumlah total makanan yang bisa dimanfaatkan umat manusia. Namun, makanan berlebih itu bukan berarti gizi yang lebih baik atau waktu santai yang lebih banyak untuk gaya hidup yang lebih sehat. Makanan berlebih itu justru berdampak ledakan populasi dan adanya kaum elit yang dimanja.

Revolusi pertanian adalah tipuan terbesar dalam sejarah. Pikirkan sejenak mengenai revolusi pertanian dari sudut pandang gandum. Sepuluh ribu tahun lalu gandum hanyalah rumput liar, satu diantara sekian banyak jenis yang tumbuh terbatas di wilayah sempit di Timur Tengah, mendadak dalam beberapa ribu tahun yang singkat, gandum tumbuh di seluruh dunia. Menurut kriteria evolusioner dasar kelestarian dan produksi, gandum telah menjadi salah satu tumbuhan paling berhasil dalam riwayat bumi. Di seluruh dunia, gandum menutupi sekitar 2,25 juta kilometer persegi permukaan bumi. Bagaimana rumput berubah dari tidak penting menjadi tersebar dimana-mana?

Akhirnya, gandum bisa memanipulasi para manusia demi kepentinganya. Sehingga manusia yang tadinya hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan, dengan adanya revolusi pertanian mereka mulai menginvestasikan semakin banyak upaya untuk membudidayakan gandum. Tak banyak yang mereka lakukan dari sang fajar mulai muncul hingga senja datang, mereka hanya mengurusi gandum dan ladangnya saja. Gandum dan ladang banyak menuntut manusia. Gandum tidak suka batu dan kerikil, maka manusia banting tulang membersihkan ladang. Gandum tidak suka berbagi ruang, air, dan zat hara bersama tumbuhan-tumbuhan lain, maka laki-laki dan perempuan bekerja keras mencabuti rumput dibawah terik panasnya matahari yang membakar. Gandum bisa sakit, maka manusia harus berjaga-jaga agar tidak terjadi serangan cacing dan hawa. Gandum tidak bisa mempertahankan diri dari organisme-organisme lain yang senang memakanya, dari kelinci sampai kawanan belalang, maka para petani harus menjaga dan melindunginya. Gandum merasakan dahaga. Rasa laparnya bahkan memaksa manusia mengumpulkan kotoran hewan untuk memupuk tanah tempat gandum tumbuh.

Tubuh manusia tidak berevolusi untuk tugas-tugas semacam itu. Tubuh manusia beradaptasi untuk memanjat pohon apel dan berlari mengejar hewan buruan, bukan untuk menyingkirkan batu dan bawa ember air. Tulang belakang, lutut, leher dan telapak kaki manusia menjadi korban. Penelitian terhadap kerangka-kerangka purba menunjukan bahwa, peralihan ke pertanian membawa serta berbagai kesakitan. Misalnya, pergeseran ruas tulang belakang, radang sendi, dan hernia. Terlebih lagi tugas-tugas pertanian baru menuntut sedemikian banyak waktu sehingga manusia terpaksa bermukim secara permanen di samping ladang-ladang gandum. Ini mengubah cara hidup manusia sepenuhnya. Kita tidak mendomestikasi gandum. Gandum lah yang mendomestikasi kita. Kata “domestikasi” berasal dari kata latin domus, yang berarti “rumah”. Siapa yang hidup di dalam rumah? jelas bukan gandum, tapi manusia.

Bagaimana gandum meyakinkan manusia untuk menukar kehidupanya yang cukup enak itu dengan keberadaan yang lebih sengsara? Apa yang ditawarkan gandum sebagai balasan?

Gandum tidak menawarkan diet yang lebih baik. Ingat, manusia adalah kera omnivora yang hidup dengan jenis makanan yang berbeda. Gandum tidak memberi manusia keamanan pangan. Kehidupan petani kurang aman dibandingkan dengan pemburu dan pengumpul. Karena para pemburu-pengumpul mengandalkan semua jenis yang bisa dimakan untuk mempertahankan hidup, sehingga bisa melewati masa-masa paceklik meskipun tidak punya simpanan makanan yang diawetkan.

Jika ketersedian jenis makanan berkurang, maka bisa mengumpulkan dan berburu jenis-jenis makanan yang lainya. Sedangkan masyarakat pertanian, mengandalkan sebagian sangat besar asupan kalori kepada segelintir ragam tumbuhan hasil domestikasi. Dibanyak daerah, mereka hanya mengandalkan satu makanan pokok, misalnya gandum, kentang atau nasi. Bila hujan tidak turun atau kawanan belalang tiba atau bila beribu-ribu bahkan berjuta-juta kaum petani pun tewas.

Gandum juga tidak bisa menawarkan keamanan terhadap kekejaman manusia. Para petani awal setidaknya sama kejamnya dengan leluhur pemburu-pengepul mereka, malah mungkin lebih. Para petani punya lebih banyak harta benda dan membutuhkan lahan untuk bercocok tanam. Hilangnya ladang pengembalaan ke tangan tetangga penyerbu dapat menjadi urusan hidup mati, sehingga tidak banyak ruang untuk berkompromi.

Ketika suatu kawasan pemburu dan pengumpul terdesak oleh para gerombolan yang menjadi pesaing saat mengumpulkan makanannya, biasanya mereka hanya melakukan pindah saja. Memang sulit dan berbahaya, namun masih bisa dilakukan. Namun beda dengan manusia pada era pertanian, jika musuh yang kuat mengancam desa petani, pergi berarti menyerahakan ladang, rumah dan lumbung ke tangan lawan. Dalam banyak kasus, itu menjerumuskan para pengungsi ke dalam kelaparan. Karenanya, para petani cenderung bertahan dan bertarung sampai titik darah penghabisan.

Hits: 27

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *