Who am I? Yakin Kita Mahasiswa?

Oleh : Dede Ruslan

Kader HMI Komisariat Syariah UIN SMH Banten

Mahasiswa sedikit bergerak banyak omongnya tanpa akal. Hal itu terus dilakukan oleh mahasiswa sebagai aktivis yang nanggung. Mahasiswa, katanya, pengamat dari sistem yang menjadikan perbudakan kepada rakyat. Ah itu semua palsu.

Toh pada nyatanya, mahasiswa sekarang yang konon idealisme dan menjunjung tinggi ego intelektual, masih kesulitan membedakan mana yang harus dipertahankan. Apakah nilai akademis yang perlu dirawat? Atau ego intelektual yang menjadi komitmen busuk?

Idenya setingggi ‘arsy, aksinya serendah wacana anak TK yang ketika ditanya, “kamu cita-cita mau jadi apa?”. Pasti jawabannya aneh-aneh. Misal, ada yang jawab jadi ultramen biar bisa menyelamatkan dunia. Bahkan bercita-cita seperti Luffy dan Naruto yang ditinggalkan ayahnya, namun mereka tak pernah menyerahkan cita-citanya kepada persoalan. Kok malah membahas anime segala sih? Sepertinya harus minum kopi, lalu bakar sigaret dan nikmati sejenak sembari merenung, “sudah dilakukan?.”

Yakin sudah siap? Lanjut baca lagi?
Lanjut aja kali ya, soalnya persoalan tidak pernah selesai jika terus mengeluh, apalagi tidak bergerak. Maka perbaiki jika tidak mau terjebak dalam jaring spiderman sistem kapitalisasi.

Kok malah ngomongin mahasiswa sih?. Aku juga kebawa-bawa jadinya, ya sudahlah. Sebab bikin jengkel dengan kondisi sekarang ini. Apalagi situasi mahasiswa di kampus ku di UIN Banten, sudah sampai tahap pragmatisme dan apatisme terhadap persoalan.

Konon, kata para abang-abang, senior kampus yang ketika masih mahasiswa idealismenya tinggi banget, tahapan mahasiswa itu ada tiga. Akhirnya aku pun penasaran dan muncullah keingintahuanku, sehingga kepalaku menyusun pertanyaan, “Memang apa bang ketiga hal itu?.”

Abang senior pun menjawab dengan penuh kesadaran, dan kala itu masih ada idealismenya. Pertama itu idealisme, kedua pragmatisme dan yang ketiga apatisme, selanjutnya mati. Ketiga hal itu bisa dibedakan dalam tahap semester dia.

Idealisme pada semester 1-3, karena masih mudah di doktrin dan bisa dijadikan badut kepentingan.

Kedua fase pragmatisme jatuh pada semester 7, karena sudah mulai mikirin, “Gue habis lulus mau kemana?”. Padahal MK (Mahkamah Konstutusi) saja masih banyak yang mengulang..wkwkwk

Fase selanjutnya itu apatisme pada semester 8 ke atas. Jika ia (mahasiswa) jadi koboi kampus atau sudah lulus, gak bakal membicarakan tentang Karl Marx, August Comte, Che Guavara, Habermas, Adam Smith, Lenin, Hegel dan lain sebagainya. Kalau disebutin satu-satu, capek ketiknya bro..wkwkwk

Namun anehnya, teori abang senior itu sekarang aku anggap salah, karena fase pragmatisme dan apatisme itu sudah ada pada semester 3. Pandangan subjektifitasku, dan empiris yang ku dapat pada kondisi mahasiswa sekarang, baik intra maupun ekstra gak mau bikin gerakan ekstrimis, karena dalih takut drop out kalau bikin gerakan di kampus. Padahal enak lho dapat doorprize, kan terkenal..wkwkkw

Kalau bikin gerakan menghadapi persoalan-persoalan yang lebih besar takut mati atau takut dipenjara. Memang benar sih mengelesnya, gak ada yang salah. Sampai-sampai masyarakat menilai mahasiswa sekarang penakut. Ada aksi, paling tumpangan politik. Bapak penjual kopi samping kosanku lho yang bilang begitu. Gak percaya? Sini ke main kosan tapi bayarin makanan ya.

Ada kenaikan tarif dasar listrik, mahasiswa tetap diam. Beda kalau persoalan terkait hasil pemilihan umum, responsifnya langsung menggeliat. Karena kalau gak responsif, takut jagoannya keok dalam berdrama.

Jika mahasiswa sekarang takut pada sistem, padahal sudah era reformasi, masa iya masih takut sih? Kalau mengekang, jangan ada lagi reformasi tapi revolusi. Coba kita nostalgia terhadap sistem sebelum reformasi yaitu orde baru, “gimana? enak tho zamanku?”. Saya kira orde baru lebih rapat membungkam kritik bahkan diskriminatif terhadap orang yang mempunyai perkakas petani. Namun para agent of social control terus mengawal persoalan hingga selesai walaupun banyak ditukar dengan nyawa manusia. Darah nyamuk tetap diambil dari manusia kan?

Namun itu semua tidak membuat gentar semangat perjuangan. Aktivis dulu itu bagiku tak banyak yang mereka ajarkan kepada kita, namun ada satu hal yang berharga yaitu tentang bagaimana menumbuhkan keberanian dan kolektif dalam perjuangan.

Wiji Tukul pernah bilang, “Buat apa baca buku kalau mulut bungkam melulu?”. Soe Hok Gie pun bertutur, “Lebih baik terasingkan daripada diam dalam kemunafikan”. Tutur aktivis dulu bagi saya bukan menumbuhkan kesadaran namun menitipkan kepada kita tentang kebenaran yang tak boleh hilang dari orang-orang Indonesia. NKRI tidak akan pernah bisa merayakan dies natalis sampai berpuluh-puluh kali jika masyarakatnya tidak berani melawan tirani yang memenjarakan dan memperbudak. Hingga hak-hak kita sebagai manusia merdeka mulai di destruksi hingga akhirnya, akhirnya apa, sudah the end aja ya.

Mari pertahanankan keberanian dan lupakan mantan, move on dari budaya malas yuk.

Hits: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *