MEMBANGUN BUDAYA MEMBACA, PERAN SIAPA ?

Oleh : Bambang Fathur

Kader HMI Cabang Kabupaten Bandung

“Membaca adalah pintu utama menuju ruangi lmu pengetahuan yang takterbatas”. Demikian pesan guru ngaji saya sewaktu saya bersama teman-teman sebaya belajar membaca buku Iqra di tempat saya biasa mengaji. Pesan itu masih segar terngiang di telinga kami seakan barusaja kemarin sore diucapkannya. Sampai saat ini saya telah berada di kelas tiga SMA, pesan itu tetap saya simpan dalam fikiran saya, dan saya sadari bahwa dengan kegiatan membaca maka saya jadi lebih tahu tentang banyak hal yang mungkin tidak saya peroleh jika tidak pernah membaca.

Dalam Islam, membaca merupakan perintah dan wahyu pertama yang disampaikanoleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, jauh lebih awal di bandingkan perintah ibadahlainnya. “Iqra”  bacalah. Rasulullah di perintahkan untuk membaca oleh Allah SWT. Tapi Rasul di kala itu masih bingung, apa yang  harus dibaca, sementara ia sendiri adalah orang yang tak dapat membaca. Setelah itu Rasul pun tahu bahwa membaca dan belajar merupakan suatu proses yang kurang lebih sama, bahwa dengan membaca berarti kita sedang belajar memahami suatu objek yang sedang kita baca.

Perintah membaca oleh Allah SWT di maksudkan agar manusia mau belajar dan terbebas dari kebodohan serta keterbelakangan. Hanya dengan membaca, derajat kemanusiaan kita menjadi lebih baik diantara sesama manusia lainnya dan tentu saja baik juga dihadapan Allah SWT.

Sejarah media massa modern diawali pada saat ditemukannya Mesin Cetak oleh Johannis Guittenberg pada abad ke 15 di Mainz Jerman. Dengan adanya mesin cetak ini, perkembangan persuratan mengalami revolusi besar-besaran. Surat-surat resmi yang tadinya digandakan dengan tulisan tangan menjadi sangat mudah jika dilakukan dengan cara di cetak. Resiko menyalin surat dengan banyak kesalahan perlahan dapat diminimalisir dan di hilangkan, di sinilah perkembangan Persurat kabaran di mulai.

Dengan munculnya media surat kabar, maka segala bentuk penyebaran informasi yang tadinya disampaikan dari mulut ke mulut resmi dilakukan dengan menggunakan teks dan dapat bertahan lebih lama.

Surat kabar sebagai media massa terus mengalami perkembangan pesat dari abad pertengahan sampai akhir millennium. Namun saat ini Media massa percetakan seperti Koran, Majalah dan Tabloid, mulai mendapat saingan keras dari media elektronik seperti Televisi, Radio dan Internet.

Tak dapat dipungkiri, dengan perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini, Media Massa Cetak mengalami banyak tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan khalayak yang cenderung menuntut sajian serba instan. Tak sedikit perusahaan persurat kabaran yang gulung tikar karena tidak mampu memenuhi kebutuhan khalayak pembaca yang semakin hari standarnya semakin tinggi. Ada pula yang kemudian bermetamorfosis meninggalkan percetakan dan beralih kedunia website dengan alasan untuk bertahan hidup. Kondisi ini memaksa media massa percetakan untuk bekerja keras berusaha agar khalayak pembacanya tetap setia menjalin hubungan simbiosis saling menguntungkan.

Diyakini bahwa sehebat apa pun perkembangan tekhnologi Informasi, dan secepat apa pun lajunya dunia informasi digital, Media Massa Cetak tetap memiliki tempat tersendiri bagi khalayaknya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Media Cetak terbukti mampu bertahan sampai saat ini bahkan tidak sedikit yang masih tetap eksis.

Yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana Media Cetak (Koran) mampu menarik perhatian khalayak pembacanya. Salah satunya dengan meningkatkan minat baca bagi khalayaknya.

Koran sebagai Media Massa, memiliki 5 fungsi utama diantaranya : untuk mendidik (to educate), untuk memberi informasi (to inform), mengarahkan (persuasive), menghibur (to entertain) dan sebagai alat kontrol sosial (tools of social controll).

Dari kelima fungsi diatas, ada beberapa fungsi yang harus diperhatikan agar khalayak pembaca menjadi tertarik untuk tetap menjadi pembaca setia. Fungsi hiburan dan pendidikan menjadi faktor utama bagaimana mengikat hati pembaca agar tetap pada kesetiaannya.

Koran harus memperlakukan khalayak pembacanya bukan hanya sebagai objek pembaca berita saja, namun disatu sisi mereka juga harus diberikan ruang agar terlibat aktif dan ikut serta menentukan bagaimana Koran itu diarahkan sesuai keinginannya.

Untuk merealisasikan hal ini Koran tidak cukup meminta partisipasi pembaca hanya dengan menyediakan kolom SuratPembaca, yang hanya berisikan kolom untuk menyampaikan keluh kesah semata. Khalayak pembaca membutuhkan ruang yang lebih besar yang sebenarnya sangat mudah untuk dipenuhi. Koran dapat menyediakan halaman atau minimal rubric khusus lebih luas yang dapat mengundang kreatifitas pembaca untuk turut serta berpartisipasi dalam mengisi berita.

Khalayak pembaca juga harus diperhatikan sesuai kategori, dalam hal ini saya membagi tiga, yaitu (1) pembaca setia, (2) pembaca biasa dan (3) pembaca pemula. Dalam hal ini saya hanya mengambil contoh bagi pembaca pemula dimana, pada kategori inilah minat baca harus ditingkatkan

Bagi khalayak pembaca pemula (pelajar dan mahasiswa), Koran dapat membuka ruang diskusi, sesuai kebutuhan dasar mereka saat ini. Baik itu berupa tips-tips ringan meningkatkan prestasi, fashion, trik-trik kebugaran dan mengelola pergaulan. Bagi khalayak pemula mereka hanya butuh rangsangan untuk dilibatkan dalam penyusunan menu berita.

Cara lainnyaadalah Koran dapat turun langsung kesekolah dan kampus untuk membentuk “kelompok baca” bagi para pembaca pemula. Dari kelompok baca inilah kemudian semangat dan minat baca itu akan ditularkan kepada para siswa lainnya. Kelompok baca ini dapat juga diajak untuk membahas info-info remaja, pendidikan dan mungkin membangun jaringan baca yang lebih besar lagi. Dan mereka inilah yang diberikan ruang untuk lebih terlibat aktif dalam membangun Media Massa (Koran) yang mereka cintai, atau dapat juga sebagai sumber berita.

Saya yakin dan percaya, cara yang saya sampaikan ini lebih mudah dilakukan dalam upaya kita membangun Budaya Membaca yang lebih baik. Selama ini saya perhatikan bahwa banyak media massa baik media cetak maupun media elektronik tidak mampu bertahan karena ditinggalkan khalayaknya. Selain karena isinya memang sudah tidak menarik, mereka juga tidak pernah merasa memiliki keterikatan dengan media massanya.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Media Massa harus membangun ide dan gagasan bersama sesuai dengan kebutuhan khalayaknya. Pembaca juga harus dibawa pada kondisi dimana mereka merasa memiliki keterikatan kuat dengan media massa yang dicintainya. Dengan begitu Budaya Membaca tetap terjaga dan Media Massa pun tetap hidup lestari.

Dapat saya simpulkan bahwa Media Massa berperan besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya bagi para pembaca pemula. Karena tanpa rangsangan dari media massa, sangat sulit mengharapkan para pembaca datang sendiri dan menjadi pembaca yang baik.

Hits: 37

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *