Tanggulangi Kebocoran, Pertamina Percepat Pengeboran Sumur Baru

Jakarta | Independensia.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak perusahaan PT Pertamina, tengah menyiapkan langkah penanggulangan atas insiden kebocoran minyak di Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang terjadi pada 12 Juli 2019 silam. Selain menyiapkan dana kompensasi kepada masyarakat, PHE ONWJ juga mempercepat pengeboran sumur baru relief well (RW) YYA-1RW guna menutup sumur YYA-1 yang bocor tersebut.

“Saat ini pengeboran sumur baru YYA-1RW telah mencapai kedalaman sekitar 624 meter dari target total 2.765 meter,” ujar Ifki Sukarya, Vice President Relations PT Pertamina Hulu Energi di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Keberadaan sumur baru ini, imbuh Ifki, sebagai jalan untuk mengontrol dan menutup sumur YYA-1 agar tidak lagi menumpahkan minyak. Pengeboran sudah dimulai sejak Kamis (1/8/2019) pukul 14.00 WIB atau dua hari lebih cepat dari yang semula dijadwalkan. PHE ONWJ terus berupaya secara optimal menahan tumpahan minyak sumur YYA-1 agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melokalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan YYA-1.

Selain itu, PHE ONWJ juga melakukan penanganan oil spill di offshore dan onshore. Pada offshore, penanganan dilakukan dengan menggunakan 4.200 meter static oil boom di lapisan pertama dan 400 meter static oil boom di lapisan kedua.

“Nanti, setelah sumur YYA-1 dinyatakan mati akan dilakukan monitoring selama 24 jam penuh sebelum dilanjutkan ke proses plug and abandon atau penutupan sumur secara permanen,” tegas Ifki.

Alur Pemberian Kompensasi

PT Pertamina juga membentuk komite sebagai langkah awal menyusun mekanisme pembayaran kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak kebocoran minyak. Komite ini akan melibatkan unsur dinas-dinas terkait dan warga masyarakat.

“Masyarakat yang terkena dampak tumpahan minyak, harus ada kompensasi yang kita danai. (Setelah) ada pengaduan masyarakat, kemudian ke perwakilan PHE atau komite,” ujar Meidawati, Direktur Pertamina Hulu Energi (PHE) di Gedung Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Meidawati menguraikan tugas komite, antara lain: (1) merumuskan dan menetapkan standar nilai kompensasi yang disesuaikan dengan standar harga barang dan jasa daerah atau harga kepantasan, kepatutan dan kewajaran; (2) Menerima pengaduan atas kerugian dan kerusakan dari masyarakat, pengusaha maupun pemerintah; (3) Melakukan verifikasi dan penilaian terhadap pengaduan hasil kajian bersama perwakilan dan PHE ONWJ; (4) Mempersiapkan dan menandatangani berita acara penerimaan kompensasi atas kerugian yang telah dilakukan; dan (5) Melaporkan hasil penanganan secara mingguan, bulanan, dan laporan akhir kepada Bupati.

“Pengaduan ini harus diverifikasi dulu, bisa diterima, bisa ditolak. Jika diterima, baru kemudian dilakukan pembayaran kompensasi itu,” pungkas Meidawati.

Hits: 12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *