Sebuah Perjuangan Untuk Bangsa dan Cinta itu Sendiri (Review Film Bumi Manusia)

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

-Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia –

           Independensia.id – Kita kalah ma, kita kalah. Tidak sinyo, kita sudah melawan dengan sekuat-kuatnya dan dengan sehormat-hormatnya. Begitulah kiranya akhir dialog Minke dan Nyai Ontosoroh di akhir Film Bumi Manusia. Beriringan dengan adegan ini, batinku bergejolak, mataku berkaca-kaca, dan rasa nasionalisme-ku pun membumbung tinggi terlebih suara Iwan Fals membuat kami merasa takjub dengan film garapan Hanung Brahmantyo ini.

            Bumi Manusia adalah kisah perjuangan kelas, perjuangan seorang Pribumi yang menuntut keadilan baginya, bagi mertuanya dan bagi bangsanya. Perjuangan yang akhirnya meruncing menjadi pertentangan antara Hukum Eropa dan Hukum Islam. Hukum Eropa, sebagai sebuah tatanan aturan yang dianggap ‘beradab’ dan ‘modern’ ternyata tidak lebih dari sekedar hukum yang menjerat dan menyengsarakan.

            Film Bumi Manusia diangkat dari novel best seller karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulisnya sewaktu mendekam di balik dinginnya jeruji di Pulau Buru tahun 1970-an. Novel luar biasa ini pernah dilarang penerbitannya karena dianggap mengajarkan ajaran Marxisme-Leninisme oleh pemerintah Indonesia, nyatanya menjadi salah satu karya yang membanggakan bangsa Indonesia, setidaknya sudah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa.

Film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo

            Film ini disajikan dengan adegan pembuka Robert Surof (Jerome Kurnia) membangunkan Minke (Iqbaal Ramadhan) yang sedang tertidur pulas untuk jalan keluar. Surof, pemuda darah campuran Eropa dan Indonesia (Indo) mengajak Minke, pemuda pribumi untuk datang menyaksikan perayaan pengangkatan Ratu Wilhelmina. Minke yang terkesima dengan padatnya jalanan dan semaraknya hiburan saat itu lantas mengamini ajakan temannya di HBS (sekolah elit yang diperuntukan untuk Eropa, Indo dan Ningrat) tersebut.

            Adegan dilanjutkan dengan keinginan keduanya untuk berbicara di club orang Eropa, Sebelum masuk, tampak sebuah papan tertulis ‘Pribumi dan Anjing dilarang masuk’. Surof tetap bersikukuh masuk, baginya dia punya darah Eropa dan punya ‘hak’ untuk berada di dalam, berbeda dengan Minke yang sedari awal sudah enggan untuk menuju tempat itu. Namun bukannya bisa bersantai dan menikmati secangkir kopi, keduanya di usir dengan dengan sangat kasar oleh seorang Belanda.

            Keduanya pun kesal dan akhirnya melanjutkan perbincangan mereka di sebuah tempat hingga akhirnya Surof mengajak Minke untuk datang ke tempat Robert Mellema (Giorgino Abraham), seorang Indo sama seperti Surof yang mendukung kesebelasan sepak bola yang sama. Menariknya di sini, Surof mengatakan bahwa Robert punya saudari yang cantik dan jelita. Minke pun mengiyakan ajakan tersebut.

            Ajakan ini menjadi salah satu konflik dan kisah yang luar biasa menarik. Minke datang dengan tampilan menawan dan rupawan dengan pakaian eropa. Bersama Surof mereka menuju rumah Robert dengan pedati terbaik saat itu. Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian) di Wonokromo itulah tujuan mereka, di sini Minke diprilakukan buruk oleh tuan rumah, stratanya sebagai pribumi direndahkan oleh Robert dan Surof. Alih-alih kesal, dirinya justru bertemu dengan terpukau dengan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh). Bukan hanya Annelies, Minke pun kagumi sosok Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), ibu dari Annelies dan Robert, pribumi yang tangguh dan cerdas. Pertemuan itu melahirkan benih-benih cinta antara Minke dan Annelies, selebihnya kisah mereka sama dengan bagaimana Pramoedya tuliskan dalam novelnya.

            Annelies di sini adalah seorang Indo yang kagum kepada ibunya, Nyai Ontosoroh. Baginya menjadi seorang pribumi dengan utuh adalah keinginannya, bertemu dan menikah dengan seorang pribumi adalah mimpinya. Hadirnya Minke, menjadi oase bagi Annelies. Sedangkan Nyai Ontosoroh, seorang simpanan dari Herman Mellema yang tidak dinikahi secara agama sehingga dicap negatif oleh lingkungannya. Beruntung, Nyai dididik dengan pengetahuan serta manajemen yang baik, tak ayal hal itu membuat perusahaan pertanian Mellema berkembang pesat.

Dialog dan adegan awal sangat menggambarkan bagaimana strata dan kasta pribumi sangat hina di negaranya sendiri. Minke yang mengenyam bangku sekolah HBS pun dibuat kesal dengan prilaku dan pikiran teman-temannya serta lingkungannya. Terlebih rasa kesal tersebut harus dibalut dengan anggapan miring terhadap cintanya.

Bagi mereka yang sudah membaca novelnya tentu tidak akan terlalu terkejut dengan bagaimana alur ceritanya, mungkin mereka hanya menantikan bagaimana Hanung mengangkat bahasa teks dalam bentuk audio visual dan cerita yang menghibur. Memang, ada beberapa adegan yang dihilangkan seperti bagaimana Robert meninggal karena sifilis dan lainnya. Bagi mereka yang belum membaca novel ini, pasti terpukau dan menikmati setiap alur dan adegan film ini.

            Sepanjang film, penonton akan disajikan dengan perjuangan Minke mendapatkan cinta sejatinya. Mulai dari dihujat, dianggap simpanan Nyai sampai akhirnya tidak direstui oleh Ayahnya. Beruntung Minke, punya sosok ibu yang kuat dan mendukung langkah anaknya. Bukan hanya cinta kepada Annelies tapi juga perjuangan cintanya kepada bangsanya, bagi Minke bangsanya sedari era Majapahit sudah memiliki peradaban yang maju dan sumpah sakti yang menyatukan bangsa ini.

            Ketika Falcon Picture, mengumumkan tahun lalu bahwa film akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Iqbaal Ramadhan berperan sebagai Minke, banyak cibiran yang dialamatkan kepada Iqbaal. Dirinya dianggap tidak mampu dan tidak sanggup memerankan karakter Minke. Gambaran tentang Dilan, remaja yang ahli menggombal masih sangat melengkap di benak penikmat film di Indonesia.

            Nyatanya, menurut saya pemilihan itu tepat dan sangat tepat, Iqbaal sanggup dan mampu perankan Minke dengan sangat baik. Film ini hidup karena diperankan oleh aktor dan aktris muda yang cocok menggambarkan gelora dan gairah cinta yang menggebu-gebu. Iqbaal sangat baik, tapi Ine Febriyanti tetaplah juaranya.

            Terlebih, dialog yang dibangun sangat dalam dan menghibur. Selama menikmati film ini beberapa kali kami tertawa dan tersenyum tipis dengan polesan Hanung. Durasi waktu 180 menit terasa begitu singkat, saya menikmati betul tiap adegan dan dialog yang disungguhkan dalam film ini.

Kendati, saya merasa ada beberapa hal yang kiranya perlu ditingkatkan. Dalam pengambilan setting tempat, saya melihat bahwa beberapa properti film terlalu mencolok dan kurang natural, lihat-lah adegan bagaimana warna merah di rumah bordil terlalu mencolok seperti baru dibanggun beberapa jam yang lalu. Jika dibuat lebih usang sedikit setidaknya membuat saya lebih menikmati properti film. Atau tentang pengambilan drone view sawah saat Minke di atas pedati, saluran parit yang sudah disemen agak sedikit mengganggu saya seorang yang visual ini.

Belum lagi, Hanung dalam hal ini masih menyisakan puzzle yang belum terjawab, seperti pria gemuk yang membuntuti Minke selama berhari-hari. Entah bagaimana ia? Seperti apa ceritanya dan pertanyaan lainnya? Entah mungkin puzzle itu akan dijawab nanti di sekuel selanjutnya. Semoga.

            Film ini membuat kita menyadari peradaban yang modern dan maju sekalipun belum tentu merupakan peradaban yang baik dalam menerapkan hak-hak manusia. Eropa dengan kegagahannya, dengan kekayaan intelektualnya, serta barang-barang modern-pun ternyata belum menjamin mampu menerapkan dan menempatkan hak-hak manusia dengan layak dan pantas. Lantas, sebagai seorang yang berpendidikan sudah selayaknya kita adil sedari pikir terlebih perbuatan agar kita dapat hidup di bumi manusia yang penuh dengan manusia bebas yang bertangung jawab atas segala tindakan yang diambilnya.

            Dari awal, penonton disodori kisah perjuangan Minke terhadap cintanya dan kesetaraan kaumnya, sampai di akhir film-pun kita akan tetap menyaksikan perjuangan Minke. Perjuangan cinta Minke itu pun harus mundur beberapa langkah seiring putusan pengadilan Eropa yang mencabut hak asuh Nyai terhadap Annelies, serta putuskan bahwa Annelies harus kembali ke Belanda dan diasuh oleh keluarga Herman Mellema, ayahnya.

Yah, selalu seperti itu kisah romantis berujung pada kesedihan yang mendalam. Kami tunggu garapan sekuel selanjutnya. (Rendy)

Hits: 44

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *