Genap 53 Tahun, Kohati Dibubarkan?

Oleh : Sitti Nur Keiya

Ketua Umum Kohati Cabang Malang Komisariat ISIP UMM Periode 2017/2018

Opini | Independensia.id – Beberapa pekan lalu saya melihat postingan dari Instagram resmi Kohati PB HMI tentang lomba menulis. Lomba tersebut sebagai perayaan ulang tahun Kohati yang ke-53. Tema besarnya yakni “Istiqomah Menjaga Himpunan”. Atas antusiasme pribadi dan juga ketertarikan terhadap hadiah yang diberikan, saya mencatat waktu batas pengumpulan tulisan.

Bahan dan garis-garis besar sudah dipersiapkan sedini mungkin guna memudahkan dalam proses eksekusi pengerjaan. Namun, sampai pada batas yang ditentukan hanya satu halaman yang bisa dikerjakan. Saya menemukan kesulitan dalam menginterpretasikan tema besar tersebut. Sebab, tema itu terkesan sangat normatif ditengah realitas pergolakan batin, kegelisahan dan kekacauan hari ini. Mengapa?

Sebab Kohati hari ini sedang mati suri. Bagai hidup segan, mati pun tak mau. Hal apa yang perlu diistiqomahkan dalam menjaga Himpunan jika Kohati belum selesai dengan persoalan dirinya sendiri.

Pertama, masalah internal. Belum lagi penyelesaian antara HMI Dipo dan HMI MPO, sekarang kita dihadapkan dengan terpecahnya dua kubu didalam tubuh HMI Dipo. Kedua kubu saling menyerang dengan persepsi kebenaran masing-masing. Persoalan yang sangat disayangkan adalah Kohati ikut terbagi ke dalam ego kelompok-kelompok kepentingan tersebut. Kohati tidak mampu menjadi kelompok atau barisan pendamai dengan segala kekuatannya. Lebih mengejutkan lagi Kohati Cabang di daerah ikut-ikutan melakukan aksi dualisme.

Kedua, atas kerendahan hati disertai kejujuran yang mendalam bahwa hingga hari ini, Kohati belum mampu merealisasikan cita-cita perjuangan. Ini terbukti dengan ketidakmampuan para kader dalam menyebarkan nilai-nilai Kohati baik didalam organnya maupun ditataran publik. Para kader mencari jalan lain dalam proses pencarian.

Awal berproses di Kohati, tetapi perjuangan dan pergerakannya di organisasi lain. Sebab mereka tidak menemukan apa-apa di dalam tubuh Kohati. Mereka mulai beralih pada organisasi-organisasi keperempuanan lainnya yang dirasa lebih progresif dan revolusioner. Kohati terlalu sederhana dan tidak cukup menjadi wadah perjuangan bagi persoalan perempuan hari ini.

Persoalan lain yang tidak kalah penting dan cukup menghantui pikiran adalah menjawab pertanyaan para HMI-wan. Pertanyaan yang dilontarkan seperti, “Apa sih mau kalian (Kohati)? Apa yang kalian perjuangkan? Bukankah semua aspirasi sudah kalian dapatkan? Kohati ini tidak jelas kemana arahnya”. Dengan pernyataan seperti itu, apakah harus menyalahkan laki-laki sementara persoalan dalam diri belum selesai?

Ketiga, dalam hak eksternal Kohati tidak mampu menjawab tantangan zaman. Terbukti dalam merespon persoalan perempuan yang terjadi di masyarakat, Kohati hanya bisa merangkak sampai pada level ‘pengekor’. Tidak mampu berdiri sebagai ‘pioner perjuangan’ apalagi ‘inisiator perubahan’. Kerja Kohati hanya sebatas urusan formalitas. Bersenang-senanglah mengurus politik kepentingan. Tak perlu sadar bahwa betapa susahnya para kader ditataran kecil (komisariat) sedang menangis darah memupuk pohon perjuangannya.

Belajar dari Gerakan Perempuan lain

Saat ini diskursus tentang perempuan terus bergejolak baik pada level internasional maupun nasional. Lewat media sosial, aktivisme gerakan terus dikampanyekan dalam menyoal isu perempuan. Ini terbukti dengan booming-nya gerakan seperti Women’s March dan #MeToo yang sukses memobilisasi massa hingga ribuan orang. Gerakan tersebut menyebar ke seluruh negara, termasuk Indonesia.

Women’s March misalnya, pada bulan April 2019 lalu mampu menampung 4.000 partisipan di Jakarta. Terdapat kemajuan jumlah beberapa kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tak pelak, daerah-daerah di Indonesia turut menambah daftar panjang gerakan tersebut. Diantaranya Surabaya, Yogjakarta, Malang, Bandung, Lampung, Kupang, Bali, Serang, Pontianak, Sumba, Ternate dan daerah lainnya.

Disamping gerakan global yang menyebar, ada juga gerakan perempuan Indonesia hari ini seperti Indonesia Feminis, Konde.co, maupun Magdalene (sebuah majalah yang menggunakan literasi digital sebagai kampanye gerakan feminis). Sementara itu, muncul gerakan yang menyatukan relevansi Islam dan feminisme, yakni Forum Islam Progresif. Kehadirannya untuk membedah kembali tafsir yang cenderung memakai interpretasi dominasi patriarkis dengan menggunakan nilai-nilai Islam yang pro-perempuan.

Disisi lain, terdapat kelompok perempuan dengan gerakan konservatif yang menggunakan narasi keagamaan sebagai arah Ideologi. Diantaranya AILA dan UninstalFeminisme. Tak lupa pula organisasi perempuan yang merupakan sayap organisasi keagamaan dan masih eksis hingga saat ini. Ada Fatayat NU dari Nahdhatul Ulama dan Aisyiah dari sayap Muhammadiyah. Mereka bergerak dalam Gerakan Pemberdayaan Perempuan. Hal mengejutkan juga bahwa ada perempuan-perempuan Indonesia modernis yang menyoal isu perempuan secara mandiri. Beberapa diantaranya muncul nama-nama seperti Kalis Mardiasih dan Laily Fitri.

Aktivisme beberapa kelompok gerakan perempuan maupun perempuan secara individu yang telah disebutkan diatas terbilang sukses, sebab disamping menyebarkan tujuan dan semangatnya juga berhasil mengusik perhatian publik. Berkaca dari kemajuan gerakan perempuan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kohati tidak mampu membawa angin perubahan bagi persoalan perempuan khususnya maupun masyarakat pada umumnya. Ia jauh tertinggal dari kemajuan.

Kohati dibubarkan saja?

17 September 2019, Kohati berusia 53 tahun. Usia bagi manusia yang sudah ditempa dengan berbagai persoalan, dimajukan dengan segala pengalaman dan dituntun dengan visi yang berpandangan jauh kedepan. Singkatnya usia paling matang dalam pembaharuan dan perjuangan. Lalu, kita menemukan kenyataan kontras yang menjadi kado pahit dalam perayaan milad-nya. Lantas apakah Kohati dibubarkan saja?. Jika dipertimbangkan lagi secara matang, maka ada semacam pernyataan yang bisa dijadikan sebagai pembanding sekaligus jawaban untuk melihat persoalan ini. Apakah harus bubar atau dipertahahankan?

Pertama dalam analisis tujuan, Kohati merupakan “Laboratorium Hidup”. Ia memiliki kualitas sebagai seorang putri bagi kedua orang tuanya, istri bagi suaminya, ibu bagi anaknya serta kualitas terbaik sebagai anggota masyarakat. Suatu tujuan mulia dan lengkap dipercayakan kepada satu nama yang disebut perempuan. Ia memiliki emotionaliteit (rasa terharu), aktiveit (kegiatan), dan chariteit (kedermawaan).

Artinya, perempuan lebih lekas tergoyang jiwanya, lebih lekas marah tapi juga lekas cinta, lekas kasihan, kurang serakah, sangat cerewet sebab ia harus menghabiskan lebih dari 20.000 kata dalam sehari. Oleh karena itu, kekuatannya terpancar lewat kelembutan dan kata-kata. Itu merupakan sifat dasar alamiah (nature) yang menjadi kodrat perempuan dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.

Ini bukan persoalan kebetulan. Hal yang dapat ditangkap adalah ia mampu menjadi penyelamat manusia dipuing reruntuhan peradaban. Tidakkah diingat bahwa runtuhnya peradaban Yunani sebab kaum perempuan terhina, atau Nazi-Jerman jatuh sebab perempuan hanya berperan sebagai penunggu gereja dan penjaga dapur. Lalu ditengah kebebasan perempuan dalam berekspresi era ini, bagaimana perempuan dapat menjalankan fungsi kodratnya? Apakah perempuan bisa menjadi barisan pendamai dan penyelamat?. Jawabannya adalah bisa.

Belajar dari kaum perempuan India. Ketika eksploitasi kapitalisme menggerogoti hutan di negaranya, para perempuan berada pada garis terdepan sebagai juru selamat. Satu perempuan memeluk satu pohon agar tidak ditebang oleh para kapitalis. Belajar pula dari Angela Merker, seorang Kanselir Jerman yang menggunakan strategi mengutus tentara perempuan sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian.

Kohati merupakan barisan terakhir yang mampu meredam amarah, kebencian dan keserakahan HMI-wan yang bertikai. Ia seharusnya berdiri menggaungkan perdamaian dari Dualisme HMI hari ini. Ini bukan zamannya lagi mengeluhkan keadaan, membicarakan kesedihan dan kemalangan, apalagi menuntut orang-orang untuk bertanggung jawab terhadap kerugian yang dialami. Tidak ada waktu lagi membutuhkan perhatian para HMI-wan. Sebab, seharusnya diganti dengan menghendaki orang memperhatikan kenyataan-kenyatan yang ada untuk menarik pelajaran atas setiap masalah. Oleh sebab itu, Kohati harus berada pada jalur terdepan dalam keberpihakan terhadap kebenaran dan perdamain, bukan mengikuti ego kepentingan kaum yang bertikai.

Posisikan diri sebagai seorang ibu yang mampu mendamaikan anak-anaknya yang bertikai, ibu yang menjadi rumah bagi kepulangan anaknya yang dilanda resah. Juga sebagai ‘Bunga-bunga Revolusi’ yang sedang bermekaran ditengah punahnya sebuah taman. Sebab, perempuan diciptakan Tuhan untuk memelihara penghuni alam semesta. Mempunyai sifat rahman dan rahiim. Sifat ke-Ilahian sebagai kemewahan yang dimiliki oleh perempuan.

Kedua, Panduan Dasar Kohati (PDK) yang menjadi pedoman perjuangan bagi HmI-wati adalah satu keistimewaan yang dimiliki. Didalamnya terkandung Tujuan, Peran, Fungsi maupun Platform Gerakan. PDK mampu melahirkan kader Kohati dengan Gerakan Ideologis. Seharusnya gerak tersebut mampu mengakar dan menjadi api perjuangan kaum perempuan. Sehingga HMI-wati tidak perlu beralih pada organisasi keperempuanan lain. Namun kenyataanya, semangat PDK belum terilhami secara baik. Akhirnya melahirkan ketidakpahaman kader HMI-wan maupun HMI-wati itu sendiri. Oleh sebab itu, perlu adanya sosialisasi, kajian, maupun gerakan secara masif yang menyentuh sampai pada akar ideologis para kader.

Ketiga, ditengah lajunya Industri 4.0, Kohati tidak mampu melebarkan sayap. Kohati tertinggal jauh dari kemajuan. Ini terbukti dengan organisasi-organisasi yang muncul sebagai pembaharu adalah organisasi yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dan itu bukan Kohati.

Lalu, apakah organisasi-organisasi tersebut lebih ideal? Bagi saya tidak.

Sebab sekalipun organisasi-organisasi tersebut mampu memobilisasi massa, mempromosikan gerakan sesuai dengan perkembangan zaman, namun gerakan-gerakan mereka tidak mampu bersatu dalam tuntutan. Gerakan organisasi perempuan hari ini adalah Gerakan Populis. Mereka terpolarisasi oleh kepentingan masing-masing. Bahkan diantara mereka saling bertikai terhadap persepsi ideologi mereka sendiri.

Untuk melihat gerakan populis perempuan, maka perlu menganalisa kembali kenyataan yang ada. Gerakan feminis hari ini melaju dengan pesat namun belum mampu bergerak dengan baik. Masing-masing bekerja sesuai kepentingan isu. Feminisme liberal (perjuangan kelas menengah ke atas) dikritik oleh feminis sosial-marxis (kelas bawah), sebab dirasa hanya berjuang untuk kepentingan kaum perempuan elit, sehingga tidak bisa berjuang sampai ke akar rumput.

Tak hanya itu, Forum Islam Progresif yang hadir sebagai penyatuan Islam dan feminisme ditentang oleh perempuan konservatif (AILA dan Uninstal Feminisme). Gerakan konservatif hadir sebagai anti-tesis bagi gerakan feminisme. Baginya, feminisme tidak layak disatukan dengan agama. Atas pertikaian inilah, maka wajar kita dapat melihat tuntutan kaum perempuan terhadap RUU P-KS sampai hari ini belum diselesaikan, sebab kaum perempuan sendiri tak kunjung bersatu.

Melihat hal diatas, seharusnya Kohati muncul sebagai ‘sintesis’. Momentum ini sebagai peluang dalam menyelesaikan pertikaian. Kohati harus mampu bergerak mulai dari gerakan kelas atas sampai ke akar rumput. Pergerakan tersebut dapat direalisasikan:

Pertama, sebab Kohati adalah organisasi perkaderan. Adanya struktur mulai dari tataran Pengurus Besar sampai Komisariat. Jumlah kader Kohati dari pusat sampai di daerah seharusnya saling berbagi dan melengkapi.

Kedua, Kohati dituntut memiliki kapasitas intelektual, kapasitas ideologis dan kemampuan menggerakkan.

Ketiga, landasan perjuangan Kohati sesuai dengan kondisi masyakat hari ini yang multikultural, baik agama, suku, budaya, maupun bahasa. Terlebih lagi, Kohati mampu menyatukan sekat antara budaya dan agama dalam memandang perempuan. Kerja-kerja Kohati jangan melulu kerja seminar, workshop, serta kerja remeh-temeh lainnya. Sudah seharusnya terjun ke masyarakat untuk bekerja sampai ke akar rumput dalam pemberdayaan seutuhnya. Ada 25,14 juta masyarakat miskin Indonesia (BPS, 2019) sedang menunggu uluran kasih Kohati.

Keempat, dengan adanya media sosial yang dimiliki Kohati, harusnya dijadikan sebagai alat propaganda dalam menyebarkan nilai-nilai Kohati. Sebab, media sosial saat ini sudah menjadi media baru (the new media) yang paling efektif dalam mengkampanyekan isu-isu perempuan kontemporer. Ini melelahkan, tapi haqqul yaqin, atas kesadaran kemanusiaan dan panggilan hati nurani maka semua akan sampai. Dengan demikian, kerja keperempuanan yang menjadi masalah sosial dapat terealisasi dalam cita-cita mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Pada akhirnya, harapan penulis adalah Kohati mampu memperbaiki diri, serta menyelesaikan segala persoalan yang ada. Ada semacam perasaan primordial yang tumbuh dan mengakar kuat, bahwa starting point (awalan) untuk berbuat adalah dari rumah (Himpunan), bukan dari rumah yang lain. Bukan untuk bersaing atau mencari panggung kepentingan, namun cita-cita Kohati terlalu mewah hanya untuk sebuah gerakan yang terlalu sederhana.

Sebagai penutup, manusia (individu) yang berhubungan dengan Allah, namun untuk mencapai ridhonya, maka dia butuh melebur ke dalam masyarakat. Selamat Ulang tahun Korps HMI-wati (Kohati) ke-53. Bangunlah, sebab Indonesia membutuhkanmu. (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *