Kongres Pemuda II: Peserta Perempuan dan Gagasan yang Terlupakan

Oleh: Imayati Kalean
(Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Jakarta, Pengurus KOHATI PB HMI Periode 2018-2020)

Opini | Independensia.id – Lantang tetapi senyap dalam memori sejarah. Begitulah kiranya jika digambarkan bagaimana perempuan ditempatkan dalam cerita sejarah, ‘tidak penting untuk diceritakan’. Maskulinitas masih menguasai nalar dan ego para laki-laki, bahkan hingga pada ranah untuk menceritakan kebenaran bahwa perempuan memiliki andil dalam berbagai ruang dan waktu ketika kemerdekaan Indonesia diperjuangkan, salah satunya adalah pelaksanaan Kongres Pemuda II.

Setelah Kongres Pemuda I yang dilaksanakan pada tahun 1926, pada tahun 1928 dilaksanakan kembali Kongres Pemuda II. Berbeda dengan Kongres Pemuda I, Kongres Pemuda II lebih banyak dihadiri peserta perempuan. Hal ini dilatarbelakangi semakin berkembangnya organisasi perempuan serta tingkat kesadaran perempuan untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan pemuda.

Peran Perempuan Kongres Pemuda II

Diantara 750 orang yang hadir, hanya 75 orang yang namanya tercatat dan 10 orangnya adalah perempuan (Bambang Sularto: 1985). Setelah penulis telusuri, hanya ada 8 orang yang terdeteksi yaitu Poernomowulan, Sarmidi Mangunsarkoro, Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw dan Nona Tumbel. Mereka semua adalah perempuan-perempuan dengan segudang aktifitas sosial, aktif dalam pergerakan dan memiliki gagasan yang cemerlang.

Pornomowulan aktif dalam Jong Java, Siti Sundari di media Wanita Sworo, Emma Poeradireja aktif di Jong Java, Jong Islaminten Bond, dan mendirikan Istri Pasundan, Suwarni Pringgodigdo dikenal sebagai pendiri gerakan Istri Sedar, Nona Tumbel adalah anggota Jong Celebes dan yang lainnya beberapa masih sangat muda dan aktif dalam pergerakan untuk memerdekan Indonesia. Maka, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa betapa perempuan yang hadir pada Kongres Pemuda II kala itu adalah orang-orang hebat yang secara kapasitas dan kepedulian sosialnya tidak kalah dengan laki-laki. Namun sayangnya, pena sejarah masih mendiskriminasi cerita hebat ini untuk disebarkan dan diketahui oleh dunia bahwa mereka ada.

Dari sekian pembicara yang ada, Poernomowulan dan Sarmidi Mangunkarso hadir sebagai pembicara utama perempuan. Sebagai orang yang aktif dalam dunia pendidikan, Poernomowulan menyampaikan dalam pidatonya bahwa hal penting dalam usaha mencerdaskan bangsa haruslah disertai dengan usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai pondasi dasar kemajuan bangsa telah disuarakan dalam forum Kongres Pemuda pada saat itu, hal yang kiranya tidak terpikirkan penting oleh kaum laki-laki yang kenyataannya lebih mudah untuk mengakses pendidikan dibanding perempuan. Maka, dalam rangka memerdekakan Indonesia dan mengisi kemerdekaan tersebut, semua orang baik perempuan atau laki-laki harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Senada dengan Pornomowulan, Sarmidi Mangunkarso sebagai tokoh pendidikan saat itu juga menegaskan maksud dari pentingnya pendidikan dalam berbangsa dan bernegara.

Sedangkan peserta perempuan lainnya yang hadir juga turut menyampaikan gagasannya dalam forum tersebut. Siti Sundari, sebagai orang aktif dalam media dan pergerakan menyatakan bahwa penanaman rasa cinta terhadap Tanah Air harus ditanamkan sejak kecil, bukan hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. Dengan begitu, rasa memiliki dan mencintai Tanah Air tumbuh kuat dalam karakter dan prinsip generasi muda perempuan dan laki-laki. Sehingga dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia menjadi tanggungjawab bersama, begitu pula ketika merdeka perempuan dan laki-laki adalah pasangan untuk membawa Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Sedangkan Emma Poeradiredja dengan tegas menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan jangan hanya pada pembicaraan tetapi juga harus disertai perbuatan. Hal ini jelas terkait dengan peran perempuan di ranah publik, bahwasannya perempuan juga memiliki peran yang sama dengan laki-laki untuk berusaha yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Melalui gagasan-gagasan yang disampaikan, ada tiga poin penting yang dapat digarisbawahi yaitu pendidikan, cinta tanah air, dan keterlibatan perempuan. Ini merupakan tiga gagasan besar yang disampaikan dalam forum Kongres Pemuda II oleh tokoh-tokoh perempuan yang hadir pada saat itu. Jika mengingat kondisi hari ini, tiga hal tersebut masih menjadi isu yang sangat sentral untuk diperbincangkan dan dicarikan solusinya.

Kesetaraan dalam Pendidikan

Tahun 2017, tren menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah (RLS) perempuan selalu berada di bawah capaian laki-laki, sedangkan rasio partisipasi sekolah perempuan dibanding laki-laki menunjukkan kecenderungan yang meningkat yaitu pada angka di atas 100, yang berarti bahwa partisipasi sekolah perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki (Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2018). Melalui data ini ada optimisme bahwa pemerataan akses pendidikan oleh perempuan dan laki-laki telah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja jika melihat dari tren RLS, negara harus lebih menjamin bahwa perempuan dapat menempuh pendidikan lebih lama yaitu dengan dapat mengakses pendidikan tinggi dengan lebih mudah. Dengan begitu kesetaraan capaian pendidikan antar gender akan tercapai.

Globalisasi menjadi tantangan yang cukup besar bagi nasionalisme generasi muda Indonesia. Apalagi jika ditambah dengan minimnya pengetahuan akan sejarah dan kurang kuatnya penanaman rasa cinta tanah air baik oleh orang tua dan juga sekolah, maka nasionalisme semakin tergerus dari pribadi anak bangsa. Rasa cinta terhadap Tanah Air harus tertanam dalam jiwa setiap anak muda agar mampu mengabdi dengan penuh keikhlasan dan bersungguh-sungguh. Sebab untuk menjadi bangsa yang besar, Indonesia tidak hanya butuh generasi cerdas dan sehat tetapi juga jiwa yang ikhlas mengabdi. Perjalanan yang panjang untuk membangun Indonesia haruslah dilakukan oleh anak-anak muda yang berjiwa besar dan tangguh, maka rasa cinta tanah air adalah nilai dasar yang harus ditanamkan kepada putra putri bangsa semenjak dini.

Perempuan dan SDGs

Berbicara keterlibatan perempuan, hingga hari ini masih menjadi polemik sosial yang cukup rumit. Akar budaya yang patriarkis menjadikan misi ini sulit diwujudkan, namun tidak berarti hal itu tidak bisa. Perlahan-lahan, dengan keterlibatan seluruh stakeholders, keterlibatan perempuan dalam pembangunan mulai meningkat dan disadari penting oleh kaum laki-laki.

Hal ini ditunjukan dengan angka perempuan yang bekerja di ranah publik semakin meningkat baik itu di pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan lainnya. Kebijakan tentang Pengarusutamaan Gender melalui UU No. 7 Tahun 1984 dan implementasi SDGs sangat berpengaruh terhadap pencapaian ini sekalipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus terus dikerjakan dan diselesaikan. Namun optimisme itu terus ada karena masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka dan menerima keterlibatan perempuan di ruang publik. Terlepas dari semua itu, tentu kita semua tidak boleh lengah. Banyak titik yang harus disempurnakan hingga kesetaraan dan keadilan gender benar-benar terwujud.

Semua ini membuktikan, betapa perempuan dan gagasannya bukanlah hal yang sepele semenjak dulu. Kongres Pemuda II membuktikan gagasan yang disampaikan oleh perempuan pada forum tersebut adalah gagasan besar, mengaskan bahwa persoalan yang disampaikan dilandasi pemikiran yang dalam dan pengalaman yang luas. Bahwa sama halnya dengan laki-laki, perempuan juga memiliki pandangan visioner dalam melihat persoalan dan kebutuhan Indonesia.

Berpikir harus adil, apalagi dalam tindakan. Saling menopang antara perempuan dan laki-laki di ruang publik merupakan pembagian peran sesuai kapasitas, peran dan fungsinya bukan atas dasar jenis kelamin. Masa dulu, hari ini, dan yang akan datang adalah perjalanan panjang yang jika begitu-begitu saja maka adalah sebuah kemunduran. Suara perempuan harus didengar, gagasaannya harus dipertimbangkan, keberadaannya harus dihormati, begitupun laki-laki. Dengan begitu, kemerdekaan yang sesungguhnya sebagaimana yang dimaksud para Founding Father akan terwujud. Serta terwujudnya tujuan Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak utama pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang saat itu perempuan juga turut serta mengikrarkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *