Maperca Ushuluddin Kenalkan LPP HMI

Independensia.id | Bandung – Usai satu minggu membuka stand pendaftaran LK 1 (Latihan Kader 1), HMI Cabang Kabupaten Bandung Komisariat Ushuluddin mengadakan Maperca (Masa Perkenalan Calon Anggota) yang bertajuk “Mahasiswa dan Tanggungjawab Sosial”. Acara dihadiri 10 calon anggota dari berbagai jurusan serta jajaran pengurus komisariat yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan, Permai V, Cipadung, Bandung, Kamis (31/10).

Maperca kali ini berbeda dengan konsep sebelumnya. Konsep kali ini mengenalkan LPP (Lembaga Pengembangan Profesi) yang ada di HMI seperti Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Kelas Bahasa Mahasiswa Islam (KBMI), Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (Leppami), Lembaga Konstitusi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI), Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) dan Badan Pengelola Latihan (BPL). Pemateri berharap calon anggota bisa memilih lembaga profesi yang ada sesuai minat dan bakatnya sehingga tidak hanya berkembang di cakupan komisariat saja.

Pemateri pun membuka Maperca dengan memaparkan sejarah singkat berdirinya HMI dan menegaskan kepada calon peserta agar menyamakan tujuannya sesuai dengan Mission HMI yaitu mempertahankan NKRI, dan menegakkan serta mengembangkan ajaran agama Islam.

Sosialisasi sejarah singkat HMI guna menjadi bahan pengetahuan untuk test screening selanjutnya. Candra selaku pemateri pun melanjutkan perkenalan masing-masing perwakilan LPP. Rislan selaku Formateur LDMI, Muhamad Valiyul Haq selaku Sekretaris Umum Leppami, Raka Azhari selaku Direktur Utama LKBHMI, Dwi Asy’ari selaku pengurus Bidang Pengembangan dan Pelatihan Fotografi Lapmi, dan Ramza Fatria Maulana Wakil selaku Sekretaris Umum BPL.

Disinggung mengenai tema, pemateri pun meminta tanggapan kepada perwakilan LPP untuk memberi pemahaman mengenai tema yang akan diterapkan. Sekretaris Umum Leppami, Valiyul Haq, mengungkapkan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang harus peka terhadap lingkungan dan diri sendiri, juga soal tanggung jawab sebagai mahasiswa untuk bisa bertanggungjawab terhadap sosialnya yaitu harus merubah sikap diri sendiri dahulu sebelum kepada sosial yang dituju.

“Contoh kecil saja, soal putung rokok yang kalian hisap itu apakah sudah tidak sembarang buang? Jika saja soal menikmati sendiri tidak bertanggungjawab maka harus dibenahi dahulu dirinya”, ungkapnya.

Acara diakhiri dengan pemberian sertifikat kepada pemateri lalu berfoto bersama dengan para peserta dan panitia pelaksana. (Evi Yuliani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *