Sekolah Ideopolitorstratak : Upaya Meningkatkan Kualitas Materi HMI

Independensia.id | Depok – Sekolah Ideopolitorstratak yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Latihan PB HMI mengangkat tema “Kaderisasi Untuk Umat dan Bangsa” yang dilaksanakan pada tanggal 26-30 November 2019 di Gedung Insan Cita Depok.

“Latar belakang kenapa kami mengadakan sekolah idepolitorstratak untuk memperkuat konten materi di Latihan Kader 2. Selain itu, ingin mengkaji sejarah dari dulu hingga hari ini terkait peran dan strategis HMI terhadap dinamika bangsa”, kata Cahyono (28/11).

Acara yang dikhususkan untuk para lulusan LK2 dan Senior Course bertujuan untuk mengembangkan materi ideopolitorstratak yang ada di tubuh HMI.

Acara yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, dibuka oleh Ketua Umum BPL PB HMI Periode 2014-2016, Ahlan Elfaaz (27/11).

Di sela-sela acara, tim independensia.id berkesempatan untuk mewawancarai Ketua Umum BPL PB HMI periode 2018-2020, Nur Cahyono. Berikut cuplikan wawancaranya:

P : Materi ideopolitorstratak tidak terlepas dari sebuah dinamika konflik organisasi, termasuk dualisme PB HMI hari ini. Apa tujuan terselenggaranya acara ini bang?

N : Yang paling terpenting adalah kita tidak terlalu mempermasalahkan kondisi dinamika yang ada di PB HMI. Namun, BPL PB HMI fokus pada proses sumber daya manusia di tubuh BPL itu sendiri baik dari sisi intelektual maupun soft skill

P : Apakah dengan adanya sekolah ini menjadi wadah konsolidasi juga bagi para instruktur bang?

N : Pastinya, tapi yang terpenting ketika kita mengadakan sebuah kegiatan khususnya sekolah ideopolitorstratak untuk memfokuskan pemahaman instruktur terkait materi ideopolitorstratak. Selain itu, BPL PB HMI periode ini sering melaksanakan kegiatan agar kita bisa merubah mindset di teman-teman cabang se-Indonesia, bahwasanya aktivitas BPL itu tidak hanya mengelola dan misi materi, tapi bagaimana kita juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia di BPL itu sendiri

P : Abang kan sering mengisi acara LK diberbagai cabang di Indonesia. Apakah dengan diadakannya sekolah ini, Abang melihat materi tersebut kurang berkualitas?

N : Secara umum kondisi hari ini, instruktur itu ketika mengelola jarang sekali memperdalam materi yang memang ada di LK2. Selain itu, harus memperjelas bahwasanya politik HMI itu harus disesuaikan dengan tujuan awal berdirinya HMI. Namun kenyataannya, di kalangan kader HMI kurang tahu akan hal itu

P : Kita masih ingat bahwa di era Pemerintahan Jokowi Jilid 1, PB HMI bersama Kelompok Cipayung mengadakan mediasi bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Apakah dengan adanya sekolah ini, para instruktur dapat menjadikannya alat agitasi untuk kembali masuk kampus, bang?

N : Iya itu memang betul, karena pada hari ini ketika kita bicara ranah kampus, harapannya emang betul para instruktur yang mengikuti sekolah ideopolitorstratak mampu mentransformasikan nilai kepada teman-teman lainnya. Bisa ketika kader masih di komisariat, sebenarnya apa sih tugas dan wewenang komisariat di dalam ranah kampus. Gak cuma itu, kalau di cabang lebih luas lagi pembahasannya di wilayah administrasi kota. Bahkan sampai ke tingkatan PB yakni tataran nasional juga seperti itu

P : Kalau ditarik ke ranah nasional, di LPP maupun Badan-badan HMI mulai dari tingkat komisariat hingga pengurus besar ada pelatihan-pelatihan yang dilakukan. Apakah dengan adanya acara ini, dapat juga menjadi wadah para instruktur untuk pengelolaan pelatihan tersebut, bang?

N : Sangat bisa sekali. Sebenarnya yang pertama, instruktur itu tidak hanya satu menguasai satu disiplin ilmu, tapi berbagai disiplin ilmu. Nah, misalkan ketika Lapmi ingin mengadakan pelatihan khusus terkait jurnalistik, kita bisa mendistribusikan instruktur yang memang background disiplin ilmunya itu terkait ilmu komunikasi dan kejurnalistikan. Contoh lain misalkan, ingin mengadakan pelatihan terkait ekonomi, kita juga pasti ada anggota memang jago disiplin ilmunya di ekonomi. Instruktur yang terkait disiplin ilmu LPP itu yang akan kita distribusikan

P : Apakah BPL sudah ada upaya untuk mengadakan acara khusus untuk membahas materi-materi pelatihan di LPP yang nantinya dari hasil acara tersebut bisa di distribusikan ke cabang maupun komisariat, bang?

N : Sejauh ini sih belum. Ketika kita bicara pelatihan yang memang sifatnya itu sinergis, ya itu belum. Makanya ke depan itu ya harapannya kita di bakornas ataupun di Badan Khusus bisa sinergis. Sebagai contoh, ketika Lapmi ingin mengadakan pelatihan, sebelum itu kita melakukan dialog sebaiknya seperti apa

P : Berarti BPL belum ada masukan ya bang terkait kurikulum pelatihan yang ada di LPP?

N : Kalau terkait kurikulum memang belum ada. Makanya mudah-mudahan bisalah antara Badan Khusus dan Bakornas untuk bicara tentang pelatihan apa intinya. Disitu kita membahas terkait kurikulum seperti apa. Bagaimanapun terkait konten materi, teman-teman Bakornas yang lebih mengetahui. Soalnya anggota BPL ini sekali lagi, ya tugasnya hanya mengelola-mengelola forum materi. Kita juga pasti akan mencari instruktur yang memang berasal dari background disiplin ilmu yang sesuai.

P : Pertanyaan terakhir bang, mungkin ada pesan untuk para anggota HMI di seluruh Indonesia, khususnya anggota baru ikut LK1 yang semangatnya masih menggelora. Bagaimana menjaga konsistensi agar semangat ber-HMI bisa dijaga hingga ke tingkat nasional?

N : Kita harus selalu mengingat ikrar ketika kita LK1, inna sholati, wanusuki, wamahyaya, wamamati, Lillahirabbil’alamin. Segala sesuatu yang kita perbuat itu tujuannya hanya untuk Allah SWT. Insya Allah itu kunci kita bisa komitmen dan konsisten aktif di Himpunan Mahasiswa Islam

P : Terimakasih bang atas waktunya. Semoga acaranya berjalan lancar dan Abang sehat selalu.

N : Aamiin. Terimakasih juga mas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *