Campur Darat Kembangkan Mangga Varietas Baru

Independensia.id|Tulungagung – Manfaatkan hutan desa, seratus lima puluh Mangga Pisang ditanam warga Campur Darat, Tulungangung. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi mangga varietas baru ini yang didatangkan dari penangkaran tanaman Dinas Pertanian Pasuruan, pada Senin (10/2/2020). Bersama Babinsa dan Babinkamtibmas Desa Campur Darat, aparat desa beserta masyarakat siap hadirkan lahan produktif.

Laila Nur Akhroma, penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa Mangga Pisang adalah mangga varietas baru yang cukup bisa menjadi destinasi bagi pecinta tanaman buah. Lebih dari itu, mahasiswi jurusan Agroteknologi juga menambahkan bahwa tanaman buah satu ini memiliki keunikan yakni cara memakannya sama seperti mengupas pisang. Daging dan biji mangga ini juga tidak benar-benar menyatu hingga mudah untuk dimakan.

“Mangga ini tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pertumbuhannya, nanti kalau tumbuh, tinggi maksimalnya pun hanya tiga meter. Jadi kalau misalnya kita bicara pengelolaan dan hasil, ini akan memudahkan dan menguntungkan sekali untuk masyarakat. Bersyukurnya kami juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat, utamanya pembina kami kami, Pak Syariful Alam,” terang mahasiswi yang masih duduk di semester enam tersebut.

Suharni, Kepala Dusun Ngingas, Campur Darat, mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan penanaman yang kesekian kalinya dalam tahun ini, namun yang bersifat tanaman buah baru dimulai oleh KKN 36 UMM. Kepada kami, Harni menyatakan bahwa keberadaan tanaman buah ini menghasilkan proyeksi bahwa kedepannya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) akan memiliki produk unggulan di masa yang akan datang.

“Ya singkat kata, ini harapan kami kedepannya, artinya kan rekayasa yang coba dibawa oleh adik-adik KKN kita jadikan motivasi juga dalam mengembangkan perekonomian desa di masa yang akan datang, dan kami mengapresiasi betul kegiatan ini”, tandasnya.

Lahan yang kurang lebih 4 hektar tersebut sebelumnya telah ditanami sengon dan dengan jumlah yang banyak. Kepala desa Campur Darat, Dian Wahyu Saptoto, membenarkan bahwa pohon ini selain menjanjikan prospek ekonomi, tetapi juga sebagai alat mengkondisikan masyarakat untuk turut menjaga lingkungan, utamanya hutan desa yang saat ini perlahan dialihkan sebagai lahan produktif dengan tanpa menghilangkan keanekaragaman hayati di didalamnya.

“Masyarakat secara tidak sadar akan berpikir keuntungan dari setiap yang dilakukan. Dalam kondisi ini dari adik-adik KKN menawarkan hal sama, tapi juga tidak dengan cara melakukan eksploitasi, malah memberdayakan lingkungan sesuai degan yang kami harapakan”, ungkap Dian saat sedang bersama masyarakat di lokasi penanaman.

(Galan Rezki Waskita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *