Mahasiswa Intelektual?

Oleh : Rahmat Taufik NST

(Kader HMI Cabang Medan)

Opini – Independensia.id | Sepasang mata melihat peristiwa mahasiswa intelektual kian kabur dan tidak bernyawa di pusaran kaum miskin dan ketidakadilan. Peristiwa mahasiswa di balik tembok kian mengerikan atas didikan para pemangku kebijakan melalui surat-surat cinta yang mematikan tanpa berpikir kritis dan melawan.

Kebijakan di balik tembok telah melahirkan mahasiswa make up alias penjilat, hedonisme, apatis dan gondrong. Jauh dari warisan orba alias simbol kebebasan dan perlawanan terhadap rezim Soeharto, sungguh menjijikkan. Pemangku kebijakan tepuk tangan menandakan sebuah keberhasilan dalam menjinakkan bibit pengacau.

Tulisan ini disajikan untuk kita semua dalam rangkaian penyadaran intelektual. Sebagaimana peran kita dalam pusaran kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakberpihakan kepada masyarakat. Mahasiswa pada dasarnya kaum intelektual yang mampu menerobos, mendobrak dan memberi pencerahan kepada masyarakat ke arah perubahan.

Tokoh pemikiran Revolusi Iran, Ali Syariati yang lahir di Kahak, 24 November 1933 memberikan gambaran arti intelektual. Ia berasal dari keluarga terhormat karena keulamaan orang tuanya Muhammad Taqi. Intelektual adalah orang yang mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dan terpanggil untuk memperbaiki nasib umat dari ketertindasan dan mengembalikan hak-hak rakyat agar mereka bisa menikmati kehidupan berkeadilan.

Pemikiran Ali Syariati dalam konteks intelektual senyawa dengan pemikiran Antony Gramcy yang lahir pada tahun 1891 sebuah kota kecil Ales, Italia. Sebagaimana pemikiran Gramcy, ia memetakan intelektual menjadi dua kategori, yaitu intelektual tradisional adalah orang yang berkutat pada teori dan intelektual organik adalah intelektual yang sadar dan mampu menghubungkan teori dan realita sosial.

Dewasa ini, kita lupa memerankan diri sebagai kaum intelektual dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Sebagian diantara kita mahasiswa sibuk menghadap senioritas dan para pemangku kebijakan alias tokoh bangsa. Suatu kebanggaan dan cenderung mengagungkan, mendengar ucapan seolah-olah itu fatwa atau sabda melebihi para nabi. Semoga saja kentut tidak dijadikan fatwa dan tidak menjerumuskan kita kedalam penjara berpikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *