Sosialisasi Asuransi Pertanian Harus Ditingkatkan dan Jadi Perhatian Publik

Independensia.id|Jakarta – Asuransi pertanian merupakan upaya risk sharing untuk melindungi petani yang diamanatkan dalam undang-undang (UU) Nomor 19 Tahun 2013. UU ini belum diturunkan ke dalam bentuk Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden, tetapi langsung diturunkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/Permentan/ SR.230/7/2015 tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 30/Kpts/SR.210/B/2018 tentang Pedoman Bantuan Premi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Menurut peneliti LIPI, Dani Hidayanti, perlunya perlindungan petani melalui asuransi pertanian sangat diperlukan karena tiga alasan utama. Pertama, sebagian besar petani adalah petani kecil yang kemampuannya dalam mengatasi risiko tidak memadai.

Kedua, petani adalah “soko guru” penyedia pangan bangsa, sehingga secara moral dan rasional negara berkewajiban melindungi petani dari risiko yang mengancam keberlanjutan usaha tani dan kesejahteraannnya untuk menjamin keberlanjutan produksi secara nasional.

Ketiga, perlindungan melalui skema asuransi memungkinkan tebentuknya risk sharing antarpetani yang sinergis dengan prinsip penguatan kohesi sosial dalam komunitas petani.

Sedangkan menurut Kepala Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Erdiriyo mengatakan bahwa asuransi pertanian bertujuan untuk mencegah kerugian. Di sisi petani apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses bercocok tanam.

Risiko yang dijamin, lanjut Endiriyo di antaranya banjir, hama, kekeringan, dan penyakit. Kriteria peserta yaitu Petani penggarap atau Pemilik lahan maks. 2 Ha per pertanggungan.

“Premi Rp 36.000 (swadaya Petani) dan Rp 144.000 (bantuan Pemerintah) per Ha/musim tanam. Pertanggungan maks. Rp 6 juta per Ha,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Budhy Setiyawan selalu mengatakan bahwa yang sangat strategis dan fundamental adalah program asuransi. Hal ini, Budhy mengimbuhkan yang mampu menjawab sektor pertanian untuk senantiasa regenerasi.

“Saya harapkan bisa diperkuat asuransi pertanian ini dengan ya Perpres. Asuransi pertanian ini, lanjut Budhy tidak hanya berbatas hanya pada padi, tapi kedelai, dan jagung.

“Ini yang perlu diselamatkan dan disosialisasikan oleh pemuda, dan kita dorong Presiden untuk mengeluarkan Perpres soal asuransi pertanian,” tuturnya.

Di sisi lain, Kadiv Asuransi Agri dan Mikro PT. Jasindo, Ika Dwinita Sofa berharap banyak kepada pemuda millennial untuk berperan aktif dalam mensosialisasikan asuransi pertanian ini.

“Ada misi baik untuk menguatkan program asuransi ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *