Virus HMI

Oleh : Irma Syuryani Harahap

Mahasiswi Pascasarjana IPB

Opini – Independensia.id | Dunia kesehatan dilanda virus, bermula dari virus Mers (midle east respiratory syndrome ) yang terjadi di Korea Selatan dengan menewaskan 4 orang, sehingga pemerintah mengkarantina 700 orang yang diduga telah berhubungan langsung dengan pasien-pasien MERS. Penyakit ini bersifat pandemik, virus mengalami mutasi dalam strain genetik, akhirnya dapat tumbuh dan hidup dalam tubuh manusia serta menimbulkan penyakit yang lebih ganas dari penyakit sebelumnya.

Masyarakat dunia mengalami kecemasan atas mewabahnya penyakit ini, kemudian penyakit sejenis Ebola yang didiagnosa pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, sesaat setelah seseorang baru pulang dai Liberia (2014).

Virus ini berasal dari hewan liar yang ditularkan ke manusia. Berdasarkan sejarahnya, Ebola pertama kali menyebar pada tahun 1976. Ebola menginfeksi populasi manusia melalui kontak darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya. Di Afrika, infeksi virus telah didokumentasikan melalui perantara simpanse, gorila, kalong, monyet, kijang hutan, dan landak, sifatnya juga menyebar ke seluruh manusia.

Selanjutnya Corona virus yang baru muncul secara mengejutkan di Wuhan, China. Virus corona menjadi topik terhangat sejak dua pekan terakhir sejak Januari 2020. Virus ini mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang hanya dalam waktu dua pekan.

Satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah virus ini terus mencari mangsa, sementara obatnya hingga saat ini belum ditemukan. Virus ini terasa semakin menakutkan bagi warga karena berkaitan dengan Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) yang pernah menewaskan hampir 650 orang di Tiongkok dan Hong Kong pada 2002 dan 2003.

Virus Corona menjadi momok paling meresahkan bagi masyarakat dunia saat ini. Dalam istilah kedokteran disebut sebagai 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV). Dikutip dari Center for Disease Control and Prevention, cdc.gov, virus Corona merupakan jenis virus yang di identifikasi sebagai penyebab penyakit pada saluran pernapasan yang pertama kali terdeteksi muncul di Kota Wuhan, Tiongkok.

Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Dilaporkan banyak pasien yang terjangkit, orang pertama yang jatuh sakit akibat virus ini juga diketahui merupakan para pedagang di pasar grosir hewan seperti seperti ular, kelelawar, dan ayam serta makanan laut.

Diduga virus Corona ini hampir dapat dipastikan berasal dari ular. Diduga pula virus ini menyebar dari hewan ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia. Secara umum, seorang yang terinfeksi virus Corona memiliki gejala seperti demam, gangguan pernapasan, batuk pilek, sakit tenggorokan dan letih.

Beberapa minggu lalu penulis berdiskusi dengan Taruna Ikrar, Ph.D., seorang ilmuwan yang menyatakan bahwa namanya sebuah virus itu akan selalu berkembangbiak dan berspora dimanapun ia berada, sebab itu menjaga kesehatan tubuh dan mengkonsumsi makanan yang baik dan sehat itu sangatlah baik.

Hubungan Virus dengan Visi HMI

Ibarat sebuah virus, HMI menjadi ‘virus kebaikan’ bagi kaum mustadh’afin. Lahir dari pergelokan revolusi fisik bangsa pada tahun 1947 yang mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Semangat nilai tersebut menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai interest group (kelompok kepentingan) dan pressure group (kelompok penekan). Dalam posisi berkepentingan, sasaran hendak diwujudkan lahirnya nilai-nilai secara normatif dalam tatanan masyarakat, sedangkan posisi penekan adalah keinginan sebagai Pejuang Tuhan (fi sabilillah) dan pembelaan mustadh’afin.

Adapun tujuan HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Tujuan HMI inilah yang menjadi ruh dan semangat landasan gerak dan cita-cita HMI sampai hari ini.

Dalam lintas periode sejarah berdirinya, HMI menjadi harapan masa depan untuk berjuang di jalan kebenaran. Dari rahim HMI, diharapkan lahir kesempurnaan kader yang terukur dari personality yang integratif antara dimensi dunia-ukhrawi, indidvidu dan sosial, serta iman dan amal yang semuanya mengarah pada terciptanya kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat, baik individu dan kolektif.

Dinamika internal HMI di berbagai periode sangat plural dan kompleks, kualitas kader sangat ditentukan oleh kemampuan kader dalam mewujudkan idealisme kekaderan. Jika hari ini merujuk dari berbagai problematika HMI, substansi perjuangan kekinian dengan mengamati perkembangan zaman mulai dari globalisasi, digitalisasi hingga artificial intelegence (AI) yang nantinya akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan umat manusia seperti saling terkoneksi antara individu maupun komunitas di dunia dan membutuhkan antara satu dengan lainnya.

Perubahan identitas dan terbukanya tantangan hari ini menuntut setiap kader untuk beradaptasi, secara wilayah kita dibatasi oleh teritorial negara, akan tetapi secara konektivitas kita tanpa batas. Oleh sebab itu, HMI sebagai organisasi kader diharapkan mampu berdinamika dengan cepat dan sesuai tantangan globalisasi yang mampu beradaptasi. Sebagaimana dirumuskan dalam cita-cita besar HMI yakni muslim, intelektual, profesional, dan intelegensia.

HMI merupakan wadah pembentukan watak dan kepribadian serta intelektual dalam membangun kecerdasan yang dilandasi oleh iman dan takwa kepada Allah SWT. Tiap pergantian kepengurusan HMI yakni Konferensi Cabang atau Kongres, keidealisannya selalu teruji pada politic oriented. Orientasi menjadi politisi dan pejabat.

Padahal era milenial ini kualitas intelektual, skill atau keterampilan sangatlah penting, sebab bila merujuk pada tujuan utama HMI adalah insan akademis, artinya poin ini menjadi titik nadir perjuangan dan kualitas HMI. Oleh karena itu, Kongres HMI kali ini harus mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan dari pemilik modal maupun organ senioritas yang tertumpu pada partai politik, sehingga aktor-aktor pemimpin ke depan menjadi power, network dan access yang bisa menggerakan secara bebas dalam mewujudkan cita-cita HMI yakni adil dan makmur.

Power dan network dalam lini kehidupan haruslah mampu menjadi premi yang profesional. Bila profesional, kader-kader HMI kelak akan memberi implikasi positif yang sangat positif bagi kelanjutan perkaderan-kultural yang memberi nilai dalam mengimplementasikan misinya untuk kemajuan umat dan bangsa di masa yang akan datang.

Jika hari ini kita belum mau membuka pikiran dalam konteks politic oriented, maka dengan tantangan globalisasi kita akan tertinggal zaman. Dengan demikian, HMI haruslah mampu menjadi virus yang menggerakkan dalam kebaikan demi persatuan keumatan, kebangsaan dan ke-Indonesia-an bagi masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Pengharapan terbesar bagi penulis adalah semoga tetap tegap berdiri dengan segenap misi besar HMI dan berkiprah di tengah arus kemajuan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *