Dilematika Kader HMI : Training via Daring hingga Kesadaran Sosial

Oleh : Kafabihi

(Mahasiswa Ilmu Kelautan UMRAH Riau)

Opini – Independensia.id | Setiap orang tidak menyangka bahwa jadwal training tingkat nasional maupun regional yang sudah dijadwalkan, ditunda akibat pandemi virus Covid-19. Panitia maupun peserta sama-sama dirugikan dalam situasi ini. Tidak hanya perkaderan saja, dunia pendidikan pun mengalami dampak yang sama. Beruntung bagi sekolah yang berada di perkotaan dapat memanfaatkan metode belajar melalui daring. Tapi, bagaimana dengan sekolah yang ada di pelosok desa?. Tentunya akan meliburkan siswa-siswinya tanpa aktifitas apapun. Tidak semua sekolah siap dengan sistem pendidikan daring. Selain itu, merebaknya pandemi virus Covid-19, memaksa para sivitas akademika untuk berpikir keras langkah yang diambil kedepan.

Akhirnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam masa darurat corona virus desease (Covid-19) yang salah satu poin pentingnya adalah keputusan pembatalan Ujian Nasional 2020. Ini menjadi suatu catatan sejarah dunia pendidikan di Indonesia, dimana untuk pertama kalinya Ujian Nasional ditiadakan akibat wabah pandemi ini. Langkah ini diambil sebagai respons dalam memprioritaskan keselamatan dan kesehatan pelajar.

Sementara itu, berbicara mengenai metode daring, sempat menjadi diskusi hangat antarinstruktur HMI di berbagai forum. Ada yang mengusulkan metode training maupun follow up menggunakan media daring untuk mengantisipasi menurunnya rekrutmen calon kader dan perlambatan jenjang perkaderan di HMI. Beberapa pihak setuju dengan usulan ini dikarenakan situasi yang memaksa, ada juga yang tidak setuju dengan alasan menjaga marwah perkaderan. Kegiatan training identik dengan pola tatap muka serta diskusi interaksi. Akan sangat berbeda rasanya ketika instruktur berusaha untuk mentransformasikan nilai-nilai dalam ruang gerak yang sangat terbatas seperti media daring.

Kesadaran adalah Inti dari Perkaderan

Perkaderan tidak jauh berbeda dengan halnya pendidikan. HMI merupakan organisasi perkaderan dan perjuangan, tidak luput dari nilai-nilai progresifitas serta ruang gerak yang sangat aktif demi mengawal sendi-sendi kehidupan bangsa. Merebaknya pandemi ini sangat berdampak besar bagi perkaderan HMI. Belum lagi, Kongres HMI ke-31 di Surabaya diundur sampai waktu yang tidak ditentukan. Proses perkaderan HMI berdampak luas di seluruh Indonesia.

Tertundanya kegiatan training formal maupun informal, menjadi pukulan bagi setiap kader yang ingin melanjutkan jenjang training. Training diperlukan demi keberlangsungan hidup organisasi dan progresifitas HMI dalam mencetak kader kedepan. Sudah saatnya kader HMI merefleksikan diri, serta terjun langsung dalam membantu melawan wabah pandemi ini sampai kondisi benar-benar stabil. Alih-alih, ada juga beberapa cabang HMI yang tetap menggelar kegiatan training ditengah wabah pandemi ini, tentu hal ini membahayakan bagi keselamatan kader. Perkaderan tidak hanya berbicara tentang kegiatan training saja, tetapi lebih dari itu.

Teori tanpa aksi itu tidak akan merubah apapun. Setidaknya ada yang bisa digerakkan, baik dalam bentuk tulisan atau relawan di lapangan. Hal yang bisa dilakukan saat ini ikut membantu menyelesaikan penanganan Covid-19 hingga tuntas. Bangsa ini memerlukan generasi muda yang mempunyai kapasitas untuk merubah kondisi dan situasi saat ini. Seperti halnya kader HMI yang masuk tim relawan untuk membantu pencegahan wabah, membuat alat pelindung diri, menggalang donasi, dll.

Tagar #stayathome menjadi viral di media sosial. Hal ini sangat bertentangan dengan sifat kader HMI yang tidak bisa diam ketika kondisi bangsa kian memburuk. Kakinya akan bergerak dengan sendirinya begitu mendengar bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja, disitulah letak keberhasilan dalam perkaderan. Kader HMI yang berdiam diri dirumah tidak akan menyelesaikan apapun. Tapi, jika kader tersebut tidak mampu dan paham kondisi diluar, sebaiknya dirumah saja agar tidak menambah beban tenaga medis.

Kesadaran kader dalam melawan situasi ini, tentu harus dimaknai dengan sikap optimis dan yakin akan melewatinya bersama-sama. Beberapa Komisariat maupun HMI Cabang secara khusus membahas dan mensosialisasikan wabah Covid-19. Kegiatan tersebut penting dilakukan karena tingkat ketakutan semakin meluas di kalangan masyarakat. Penulis yakin kader HMI bisa memberikan sumbangsihnya berupa solusi dan tindakan nyata atas kondisi yang terjadi saat ini. Tidak ada kata lelah, disitulah kader HMI berada. Busungkan dada dengan tegak, kader maupun alumni HMI sama-sama bergerak. Yakin Usaha Sampai. (30/3/2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *