Dampak Covid-19 Bagi Mahasiswa UINSU Medan

Oleh : Dimas Anjasmara

Mahasiswa UINSU Medan

Data per tanggal 2 April 2020, total jumlah positif Coronavirus atau Covid-19 di Indonesia bertambah menjadi 1.790, sembuh 112 dan yang meninggal 170 orang. Bayangkan, dari awalnya 2 orang ketika diumumkan awal Maret lalu dan akan terus bertambah. Opsi lockdown sudah banyak disuarakan dari awal, baik dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), pemerintah daerah, politisi, penggiat seni, influencer bahkan dari masyarakat biasa. Tapi lockdown hanya bisa dilakukan oleh pemerintah pusat, maka dari itu saya sampaikan pemerintah harus tegas dalam menyikapi situasi seperti ini, sebelum terlambat seperti Italia dengan jumlah angka kematian tertinggi dalam kurung waktu sebulan saja kasus Covid-19 (Corona), karena menganggap sepele.

Masih belum terlambat untuk segera lockdown dan memperketat semuanya. Disiapkan juga semua solusi kebutuhan dasar warganya sebagai mana yang sudah diatur Undang-Undang.

Virus corona baru merebak pada bulan Maret di Tanah Air. Namun dampaknya telah memukul berbagai sudut ekonomi. Indeks bursa saham rontok, rupiah terperosok dan ekonomi Indonesia melemah. Lembaga keuangan dunia, ekonom, dan otoritas pemerintah membuat sejumlah prediksi, ekonomi Indonesia bisa masuk dalam skenario terburuk jika tidak mengatasi dengan benar pendemi ini. Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di Asia. Angka itu juga merupakan yang terendah sejak krisis pada Juli 1998.

Hari berikutnya, rupiah hanya menguat 0,45 % ke level 16.500 per dolar AS. Kemerosotan ini tampaknya belum akan berhenti karena wabah Covid-19 di Indonesia semangkin luas. Saya ikut berduka cita atas apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini terkait wabah virus covid-19, semoga musibah ini cepat berlalu.

Pada tanggal 18 Maret 2020 sampai 31 Maret 2020, pimpinan kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan (UINSU) Medan mengeluarkan surat edaran mengenai masa aktif mahasiswa UINSU. Pihak rektorat terpaksa meliburkan mahasiswa terkait wabah yang semangkin meluas dan sistem belajar mengajar diganti dengan menggunakan sistem e-learning, digitalisasi dll.

Tepat pada tanggal 28 Maret 2020, pihak pimpinan kampus resmi mengeluarkan surat edaran lanjutan, bahwa perkuliahan libur hingga 11 Juli 2020 dan sistem belajar mengajar menggunakan sistem e-learning dan digitalisasi. karena semakin meluasnya wabah virus Covid-19 yang berisi tentang kebijakan akademik dan non akademik terkait pencegahan penyebaran virus Covid-19 di lingkungan kampus.

Banyak pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa UINSU, apakah kebijakan rektor tidak terburu-buru dalam mengambil langkah ini? Karena banyak dari mahasiswanya mempertanyakan bagaimana dengan UKT yang sudah dibayar oleh mahasiswa kepada kampus. Hari ini, seharusnya pihak rektorat terlebih dahulu harus membuat diskusi publik antara mahasiswa dan pimpinan kampus, yang dimana nantinya ada langkah yang diambil dan tidak terkesan terburu-buru agar mahasiswa tidak kecewa dengan keputusan rektorat.

Banyak juga dari orang tua mahasiswa yang ekonomi keuangan keluarganya tidak stabil dikarenakan dampak virus Covid-19 yang melanda di dunia saat ini. Karena banyaknya dampak negatif yang akan dirasakan oleh mahasiswa UINSU terkait kebijakan rektorat yang terkesan terburu-buru dalam mengambil keputusan, mahasiswa UINSU merasa tidak puas atas kebijakan pimpinan kampus tersebut karena mahasiswa menilai sudah dirugikan.

Beranjak dari hal itu, saya menyampaikan bahwasanya pihak rektorat tidak perlu terburu-buru dalam mengambil langkah ini, karena banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan, kendati akan banyak berdampak buruk untuk mahasiswa UINSU Medan sendiri.

Penulis adalah Kabid PTKP (Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda) HMI Komisariat Tarbiyah UIN-su Medan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *