Fachry Ali Sebut Nadiem Tak Tahu Sejarah

Jakarta – Beberapa waktu lalu, Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) menyatakan mundur dari Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud). Sebelumnya, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah juga menyatakan mundur dari partisipasi aktif dalam POP.

Alasan NU dan Muhammadiyah mengundurkan diri dari POP karena kriteria pemilihan organisasi masyarakat yang ditetapkan lolos evaluasi proposal sangat tidak jelas, sebab tidak membedakan antara lembaga CSR yang sepatutnya membantu dana pendidikan dengan organisasi masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Mundurnya NU dan Muhammadiyah dari POP Kemendikbud mendapat dukungan dari Pengamat politik, sekaligus cendekiawan muslim Fachry Ali. Hal tersebut dituangkan dalam unggahan status facebooknya pada Rabu, (22/07). Ia menilai mundurnya NU dan Muhammadiyah dari POP Kemendikbud disebabkan oleh Menteri Pendidikan memberikan dana hibah kepada Sampoerna Foundation dan Tanoto Fondation masing-masing Rp. 20 milyar pertahun.

Menteri pendidikan, lanjut Fachry benar-benar tidak mengetahui masa lalu. Bahwa Muhammadiyah dan NU telah melakukan pendidikan rakyat jelata jauh sebelum Indonesia ada. Sementara Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation baru lahir beberapa “menit” lalu untuk ukuran masa panjang pengabdian Muhammadiyah dan NU mencerdaskan anak-anak bangsa.

“Ironi orang tak mengerti masa lalu. Saya perintahkan Menteri Pendidikan belajar sejarah!!!!” tegas Fachry dalam status Facebooknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *