Reaktualisasi Pemikiran Kader terhadap Pengaplikasian Mission HmI

Oleh: Robi Ahmad Hilmi (Kader HMI Komisariat STAIDA-M Cabang Garut)

Salam perjuangan…  

Dewasa ini umat islam di indonesia sedang mengalami krisis multidiMensi, terdapat banyak sebab terjadinya hal tersebut, salahsatunya adalah kenyataan bahwa bangsa indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual dan lemahnya sumbangsih pemikiran tokoh-tokoh cendikiawan muslim yang muncul pada saat ini dalam proses pembangunan umat dan bangsa. Sehingga peranan kaum intelektual muslim yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling mendasar.

Jika berbicara mengenai hal tersebut patut dipertanyakan dimana peran dan fungsi kader Hmi sebagai kader bangsa dan umat.

Amanah dan tugas yang diemban seorang kader HmI termaktub dalam pasal 4. AD ART HmI yaitu : TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNGJAWAB ATAS TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI ALLAH SWT.

  1. Kader HmI sebagai seorang mahasiswa perlu menonjolkan ciri dan sikapnya yang senantiasa menggunakan keintelektualannya untuk menegakkan kebenaran, mengabdi kepada masyarakat, dan membela kaum tertindas.
  2. Sebagai warga negara indonesia juga kader HmI mempunyai kewajiban untuk mewujudkan cita-cita negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan masyarakat adil dan makmur
  3. Begitu pula sebagai seorang muslim harus senantiasa menegakkan nilai-nilai kebenaran islam untuk mendapatkan ridho Allah.

Permasalahan yang muncul adalah hilangnya kualitas kader yang berpengetahuan luas, bahkan tidak peka dan kritis terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi. Terlebih lagi ia kurang memiliki konsep keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat.

Penurunan kualitas kader ini bisa terjadi karena belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan kader dan pengurus di hampir semua tingkatan kepengurusan tentang ke-HmI-an dan kerorganisasian.

Melakukan deskontruksi dan selanjutnya rekontruksi pemahaman ajaran islam inilah salah satu hal wajib yang dilakukan juga tentang bagaimana kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama islam dari seorang kader HmI sebelum dan sesudah masuk HmI.

Banyak yang beranggapan redupnya kualitas kader adalah bagian dari dinamika, yaitu hidup terkadang pasang dan surut.

Yang jelas hingga saat ini, HmI masih hidup (eksis). Keberadaan ini harus tetap disyukuri sekaligus menjadi tantangan bagi para kader untuk membangun Hmi lebih bertenaga dan lebih berdaya guna dalam menjalankan tujuannya.

Para kader HmI harus mampu mengidentifikasi dan merumuskan berbagai jawaban atas tantangan yang ada. Tujuan HmI harus senantiasa diperjuangkan oleh kader. Karena hal itu sejalan dengan status yang melekat pada dirinya sebagai komunitas terdidik yang memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri, lingkungan sosial, bangsa dan agama.

Diharapkan terbentuk sosok kader yang memiliki integritas, bertaqwa kepada Allah SWT , cerdas, militan, kritis dan berani untuk melawan.

Terakhir yang perlu disoroti adalah indikator yang tidak diketahui secara pasti sampai sejauh mana keberhasilan kader HmI dalam melaksanakan perjuangannya dan tidak diketahui secara pasti faktor-faktor penghambatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *