Hari Kebebasan Pers : LAPMI PB HMI Ajak Kaum Milenial Bijak Bermedia Cegah Radikalisme

Independensia.id | Jakarta – Pengurus Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI) PB HMI semarakkan hari kebebasan pers dengan menggelar diskusi secara daring. Diskusi yang bertajuk ‘Peran Pemerintah Dalam Upaya Penangkalan Radikalisme Generasi Milenial Melalui Media Sosial’ dilaksanakan melalui zoom meeting pada Selasa (4/5/2021).

Turut hadir sebagai narasumber Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid, Direktur Pencegahan BNPT, Teddy Khumaedi, S.Sos.I, M. Ag, Akademisi & Pengurus FKDM Provinsi Jawa Barat, serta Aru Prayogi, Perwakilan Bakornas LAPMI PB HMI. Diskusi yang dimoderatori oleh Siti, Dirut LAPMI Cabang Tangerang berlangsung hingga 2 jam dengan puluhan peserta dari sejumlah Perguruan Tinggi dan Kader HMI se-Indonesia.

Dalam pemaparannya, Teddy Khumaedi, S.Sos.I M.Ag menilai paham radikalisme sering terjadi di era milenial. Radikal dalam konteks keagamaan yang benar, sebenarnya dibolehkan. Tetapi ketika konteks radikalisme itu sudah menyimpang, dapat merugikan orang banyak.

“Sebelumnya beberapa tahun kebelakang radikalisme banyak menghiasi layar-layar kaca di Indonesia. Adapun dampak negatifnya terhadap suatu golongan agama tertentu yang jelas-jelas merusak citranya, dimana yang notabene pada hakekatnya kenyataan penganut agama tersebut tidak melakukan tindakan-tindakan radikalisme yang itu dilakukan oleh oknum-oknum tertentu,” jelasnya.

Hal senada disampaikan pula oleh pembicara kedua, Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid. Menurutnya, konsistensi penerapan sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila yang hakiki merupakan prasyarat stabilitas dan terwujudnya cita-cita maupun tujuan rasional bangsa Indonesia.

“Pancasila ini merupakan karya jenius anak bangsa, oleh para founding father kita, tokoh bangsa, tokoh ulama kita, tokoh nasional yang merumuskan memformulasikan tidak hanya mendasari kepada substansi budaya maupun kearifan luhur Indonesia, tetapi juga substansi agama dan lebih dari pada itu. Terutama para ulama dalam memformulasikan Pancasila tidak mendasari saja dengan kemampuan kognisi, tapi kemampuan itu dari spiritualitas para ulama,” sampainya.

Nurwahid menambahkan bahwa anak milenial usia 20-39 tahun menjadi sasaran utama kaum radikal untuk menjadi bagian dari paham radikalisme.

“Jelas ini ada beberapa alasan karena anak muda masih mempunyai militansinya yang tinggi, ghirah-nya tinggi, senang mencari tantangan, sehingga masih labil emosionalnya. Sehingga inilah yang bahaya sekali untuk kaum milenial dapat terpapar paham radikalisme,” tambahnya.

Disisi lain, Aru Prayogi selaku Direktur Bakornas LAPMI PB HMI berpandangan dalam perspektif media hari ini terdapat kesulitan untuk mengakses narasumber baik dari pihak aparat penegak hukum maupun pelaku terorisme itu sendiri, sehingga mengakibatkan frame pemberitaan memiliki potensi bias.

“Kesulitan dari media hari ini dalam menyampaikan informasi terkait radikalisme ataupun terorisme itu terbatas. Mungkin terbatas, karena ada kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, baik dari instansi pemerintahannya dalam hal ini aparat TNI dan POLRI,” terang Aru.

Aru pun berharap hasil diskusi ini dapat di ditularkan di lingkungan masing-masing agar paham radikaslisme dapat dicegah dari banyak hal.

“Semoga dengan diadakannya diskusi ini dapat memberikan rekomendasi dan gagasan baru di lingkungan tentang bagaimana peran milenial dalam menangkal radikalisme salah satunya melalui media sosial,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *